6 Feb 2015

Achilles pahlawan dalam mitologi Yunani

Kiri Tendon Achilles, Kanan Ilustrasi Achilles
Pagi ini akibat kecerobohan penulis tidak sengaja kaki bagian tulang/tendon achilles terbentur sampai terluka , sakit sekali rasanya. Lewat kejadian tersebut penulis jadi teringat kenapa bagian tersebut dinamakan tendon achilles yang merupakan seorang jendral pahlawan dalam mitologi Yunani dan dalam kisah perang Troya, beginilah kisahnya.

Pada zaman dahulu kala ada seorang dewi atau bidadari cantik bernama Thetis (huruf S nya cuma 1 jadi jangan ditambahin), karena kecantikannya tersebut bahkan sampai Zeus dan Poisedon bersaing untuk mendapatkan Thetis. Namun karena ada ramalan bahwa kelak anak dari Thetis akan menjadi lebih hebat dari ayahnya sendiri (anugrah tersebut didapatkan dari dewi Hera istri Zeus, yang ingin mencegah Zeus menikahi Thetis), maka Zeus dan Poisedon pun mundur dan membiarkan Thetis menikah dengan Pheleus raja dari Myrmidons.

Setelah Thetis menikah dengan Pheleus, lahir lah seorang putra bernama Achilles. Thetis yang menginginkan agar putranya itu tak terkalahnya lalu mencelupkan Achilles di sungai Styx (sungai dewa , yang memiliki mitos siapapun yang mandi disana akan menjadi abadi dan tak terkalahkan) dengan cara memegang bagian antara kaki dan tumit (sekarang yang dinamakan tendon achilles, ceritanya jadi mirip Duyodana di Mahabarata ya hehehe). Sehingga seluruh bagian tubuh Achilles selain bagian yang dipegang ibunya itu menjadi kebal akan senjata apapun.

Waktupun berlalu dan Achilles tumbuh menjadi seorang prajurit hebat dan tak terkalahkan bahkan dia menjadi jendral besar dari kerajaan Myrmidons. Pada suatu ketika terjadilah kaburnya puteri Helen, Istri dari Manelaus Raja Sparta. Helen kabur karena ia jatuh cinta kepada Paris pangeran dari Troya, dan dia tidak mau hidup dan menikah dengan Manelaus. Dalam kisah ini disebutkan bahwa Helen adalah wanita tercantik didunia saat itu , karena dia adalah putri dari Zeus dengan ratu Leda. Dikisahkan pula ketika ada sayembara untuk mendapatkan Helen, siapapun yang menang akan mendapatkan bantuan ketika berperang dari pihak yang kalah dalam sayembara. Peserta dari sayembara tersebut cukup banyak baik Raja ataupun Pangeran dari kerajaan-kerajaan disemenanjung Yunani, dan Manelaus keluar sebagai pemenangnya dan bisa membawa pulang Helen.

Raja Manelaus yang marah karena Istrinya "dibawa lari" oleh pangeran Paris dari Troya, meminta bantuan dari para sekutunya yang didapatkannya pada saat sayembara Helen. Dan mereka pun menggempur Kerajaan Troya, dan karena raja dari Myrmidons merupakan salah satu sekutu dari Manelaus maka Achilles pun diutus untuk menggempur kerajaan Troya. Meskipun Achilles sendiri sudah tidak mau lagi ikut berperang, apalagi hanya untuk mencampuri urusan "rumah tangga" orang lain.

Gempuran hebat para tentara sekutu Kerajaan Sparta terhadap Troya pun meletus, namun karena kokohnya dinding Troya dan kuatnya Pangeran Hector(Putra Mahkota Troya, kakak dari Paris) semua sia-sia belaka. Sampai pada suatu ketika Pangeran Hector membunuh Raja Manelaus yang menyebabkan Agnemenmon kakak dari Manelaus marah dan menghasut salah satu keluarga dari Achilles. Sehingga salah satu keluarga Achilles itu menantang Pangeran Hector dan tewas ditangan Hector,  hal itu membuat Achilles marah dan bersemangat untuk berperang. Setelah itu terjadilah pertempuran antara Pangeran Hector dan Achilles yang berakhir dengan kemenangan Achilles dan tewasnya Hector. Hal ini merupakan pukulan telak bagi kerajaan Troya terutama bagi Paris yang dendam terhadap Achilles.

Lalu muncullah strategi kuda Troya (Trojan Horse) , yaitu pasukan sekutu seolah-oleh menarik diri dari pertempuran dan menyisakan 1buah patung kuda raksasa. Para penduduk Troya yang mengira patung kuda itu adalah sebuah harta akhirnya membawa masuk patung tersebut kedalam kerajaannya dan mempersembahkannya kepada raja, mereka menganggap itu adalah sebuah "hadiah" pernyataan damai dari sekutu yang menarik mundur pasukannya. Namun ternyata didalam patung kuda tersebut sudah ada prajurit-prajurit pilihan yang sudah disiapkan untuk menggempur dan menghancurkan Troya dari dalam, dan Achilles adalah salah satunya.

Pada saat malam hari pasukan tersebut keluar dan membinasakan semua kerajaan Troya, pada saat-saat akhir Pangeran Paris yang marah dan dendam kepada Achilles menembakan panahnya kepada Achilles. Panah yang ditembakan itu tepat mengenai bagian tubuh Achilles yang tidak kebal dan menyebabkan kematiannya.


Itulah kisah tentang Achilles sang prajurit hebat dari semenanjung Yunani. Dan untuk mengenangnya maka bagian tubuh yang tidak kebal pada dirinya diberi nama Tendon Achilles

5 Feb 2015

Senjata-senjata Arjuna

Ilustrasi senjata Arjuna
Karena banyak yang protes kepada penulis, kok yang dibahas Karna melolo bahkan penulis sampai lengkap menuliskan senjata-senjatanya Karna (mentang-mentang namanya sama). Akhirnya penulis mencoba menuliskan Senjata-senjata yang dimiliki oleh Arjuna , musuh terbesar Karna (sekaligus Adiknya Karna).

1. Busur Gandiwa dan tabung Panah yang tidak pernah habis
    Busur Gandiwa adalah senjata buatan Dewa Brahma , yang didapatkan Arjuna atas petunjuk dari Dewa Agni (api) pada saat hendak membuka hutan Kandawa.  Dikarenakan didalam hutan tersebut ada Raja Ular Taksaka yang dibantu/dilindungi oleh Dewa Indra, sehingga kemampuan para pandawa saat itu belom mampu untuk membuka hutan tersebut.

2. Panah Pasopati / Pashupatastra
    Adalah anak panah pemberian dari Mahadewa Shiwa kepada Arjuna ketika ia berlatih bersama Mahadewa. Arti dari kata Pasopati sendiri adalah "pasti mati", panah ini merupakan senjata andalan Arjuna serta panah ini dapat digunakan berkali-kali. Beberapa tokoh kubu Kurawa yang mati oleh Panah ini adalah : Jayadrata dan Ayahnya, Adipati Karna.

3. Brahmastra
    Senjata dewa milik Brahma, yang kemampuannya konon katanya seperti Nuklir. Pada era Mahabharata itu hanya beberapa orang saja yang bisa memanggil senjata itu yaitu : Parasurama, Bisma, Drona, Karna, Arjuna,  dan Aswatama. Senjata ini sekali akan dilepaskan Arjuna untuk menghalau Brahmastra milik aswatama yang hendak menghancurkan Kurusetra dikala perang sudah berakhir.

Nah itulah senjata-senjata andalan yang dimiliki Arjuna
   

4 Feb 2015

Senjata-senjata Raja/Adipati Angga Karna

Ilustrasi senjata Karna
Dari sekian banyak tokoh dalam wiracitra mahabharata, masing-masing tokoh memiliki senjata-senjata andalannya yang biasa digunakan. Pada kesempatan kali ini penulis akan menuliskan senjata-senjata yang dimiliki oleh Raja/Adipati Angga Karna sang putra Dewa Surya.

1. Busur Wijaya
    Busur Wijaya ini adalah pemberian dari guru Karna yaitu Parasurama, banyak kisah dan literatur yang menyebutkan busur ini dulunya adalah milik Mahadewa atau Shiwa yang entah bagaimana bisa dipegang oleh Parasurama (penulis masih belum mendapatkan kecocokan literaturnya). Pada beberapa versi Mahabharata baik di pewayangan Indonesia atau cerita dari India, busur Wijaya ini hanya dipakai Karna pada saat perang MahaBharata.



2. Panah taksaka
    Sebenarnya hanya anak panah biasa , namun karena dimasuki oleh Taksaka si Raja Ular/Naga panah ini menjadi panah sakti yang setara kemampuannya dengan senjata-senjata dewa. Panah ini "terpaksa" digunakan oleh Karna yang dihasut untuk oleh Duyodana dan Sangkuni agar dapat membunuh Arjuna. Namun ketika panah dilesakkan Arjuna ditolong oleh Kresna yang membuat keretanya amblas ketanah dan panah Taksaka inipun meleset. Taksaka yang ingin membunuh Arjuna memohon kembali kepada Karna agar kembali bisa masuk ke Panahnya yang lain, namun hal tersebut tidak dikabulkan.

3. Tombak Konta / Vasavi Shakti
    Senjata dewa hadiah dari Dewa Indra, yang diberikan kepada Karna sebagai pertukaran dari Baju dan Anting (Khundal dan Khavac) yang merupakan anugrah dari Dewa Surya. Konta ini sesuai janji Dewa Indra hanya dapat digunakan 1x dan tidak akan pernah meleset mengenai targetnya, jadi siapapun target yang disebut namanya ketika Konta hendak dilepaskan pasti akan terkena dan terbunuh. Pada awalnya senjata ini akan digunakan Karna untuk membunuh Arjuna, namun dikarena adanya GatotKaca yang menyerang perkemahan Kurawa pada malam hari dan juga karena "dipaksa" oleh Duyodana dan Sangkuni maka senjata ini ditembakkan kearah GatotKaca dan membunuh GatotKaca seketika.

4. Brahmastra
    Senjata dewa milik Brahma, yang kemampuannya konon katanya seperti Nuklir. Pada era Mahabharata itu hanya beberapa orang saja yang bisa memanggil senjata itu yaitu : Parasurama, Bisma, Drona, Karna, Arjuna,  dan Aswatama. Namun senjata ini tidak pernah digunakan Karna, disebabkan ia kehilangan semua kemampuan dan ilmu yang ia pelajari dari Parasurama karena terkena Kutukan dari Parasurama.

3 Feb 2015

Jaya dan Wijaya Penjaga Gerbang Kediaman Dewa Wisnu (Bagian tiga)

Kresna Mengalahkan Sisupala (kiri), dan Kresna Mengalahkan  Kamsa (kanan)
Dikisahkan bahwa di tempat kediaman dewa Wisnu atau Waikuntha ada dua orang penjaga gerbang yang setia yang bernama Jaya dan Wijaya.

Menurut cerita dari Bhagawatapurana, Catursana, anak dari Dewa Brahma mengunjungi Waikuntha, tempat tinggal Dewa Wisnu, untuk melihatnya. Jaya dan Wijaya melarang Catursana untuk memasuki Waikuntha. Catursana marah sebab Jaya dan Wijaya tidak mengetahui sosok Catursana yang sebenarnya. Mereka juga memberitahu Catursana bahwa Sri Wisnu sedang beristirahat dan bahwa mereka tidak dapat melihat dia sekarang. Catursana mengutuk Jaya dan Wijaya agar turun ke dunia untuk mengalami reinkarnasi. Wisnu yang berbelas kasihan mengajukan penawaran kepada Jaya dan Wijaya. Mereka diperbolehkan untuk memilih turun ke dunia sebagai pemuja Wisnu selama tujuh kehidupan, atau sebagai musuh Wisnu selama tiga kehidupan. Wisnu juga berjanji bahwa setelah menjalani salah satu pilihan tersebut, Jaya dan Wijaya akan kembali lagi ke Waikuntha dan tinggal di sana selama-lamanya. Karena Jaya dan Wijaya ingin menjalani kehidupan di dunia sesingkat mungkin, maka mereka memilih untuk dilahirkan berulang-ulang selama tiga kehidupan. Pilihan tersebut memaksa Jaya dan Wijaya untuk menjalani kehidupan sebagai musuh Wisnu.

3. Pada zaman Dwaparayuga, Jaya dan Wijaya bereinkarnasi sebagai Sisupala dan Kamsa.
a. Sisupala
    Dalam wiracarita Mahabharata, Sisupala merupakan putra Damagosa dan Srutasrawa dari kerajaan Chedi, kerabat Basudewa dari Mathura. Ia merupakan sepupu Baladewa, Kresna, dan Subadra. Dalam kitab Mahabharata dan Bhagawatapurana diceritakan bahwa ia merupakan musuh bebuyutan Kresna (awatara Dewa Wisnu).

     Menurut kitab Mahabharata, Sisupala lahir dengan tiga mata dan empat lengan. Orangtuanya berniat untuk membuangnya, namun sabda dari langit mencegah mereka untuk melakukan hal tersebut sebab Sisupala ditakdirkan untuk hidup sampai dewasa. Sabda tersebut mengatakan bahwa tubuh Sisupala dapat menjadi normal jika dipangku oleh seseorang yang istimewa, yaitu seorang titisan Wisnu, dan kematian Sisupala juga berada di tangan orang yang sama. Ketika keluarga Basudewa menjenguk Srutasrawa, Kresna turut hadir. Saat Kresna memangku Sisupala, mata dan lengan tambahan di tubuh Sisupala langsung menghilang. Mengetahui hal tersebut, orangtua Sisupala sadar bahwa kematian Sisupala juga berada di tangan Kresna. Mereka memohon agar Kresna mau bersabar dan mengampuni kesalahan yang diperbuat Sisupala apabila anak tersebut sudah dewasa. Kresna berjanji bahwa ia akan menahan kemarahannya. Ia menambahkan, apabila Sisupala sudah menghinanya lebih dari 100 kali, dan penghinaan itu dilakukan di hadapan orang banyak, maka Kresna berjanji bahwa ia tidak akan segan untuk membunuh Sisupala.

      Semenjak kecil, Sisupala dididik oleh Jarasanda, Raja Magadha. Ia belajar bersama bersama dengan Dantawaktra, dan diajari untuk membenci Kresna. Ketika menginjak usia dewasa, Sisupala dan Dantawaktra tumbuh menjadi petarung yang tangguh. Dengan kekuatan dua pemuda tersebut, Jarasanda yang membenci Kresna berusaha menyerbu Mathura. Usaha yang dilakukan oleh Jarasanda berhasil, dan Sisupala setia mengabdi kepada Jarasanda. Ketika putri Rukmini dari kerajaan Widarbha mencari calon suami, Sisupala berniat untuk melamarnya. Dia datang tepat waktu ke tempat yang telah dijanjikan untuk melamar sang putri. Namun, acara tersebut dibatalkan sebab Kresna sudah melarikan Rukmini sebelum Sisupala sampai di kerajaan Widarbha. Hal itu membuat Sisupala menjadi marah dan semakin membenci Kresna.

       Setelah Jarasanda dari Magadha dibunuh oleh Bima dalam sebuah pertarungan, kerajaan Magadha tunduk pada kerajaan Kuru. Untuk menegakkan darma di daratan Bharatawarsha, Yudistira dari Indraprastha menyelenggarakan upacara Rajasuya. Para raja dari kerajaan di penjuru Bharatawarsha menghadiri aula Indraprastha, termasuk Sisupala dari Chedi. Ketika Yudistira bingung memutuskan siapa yang akan menerima hadiah terlebih dulu, Bisma—kakek Yudistira yang merupakan sesepuh Dinasti Kuru—berkata bahwa Kresna paling layak mendapatkannya. Mengetahui hal tersebut, Sisupala menjadi dengki lalu menghina Kresna bertubi-tubi.

       Sambil menghina Kresna, Sisupala menantangnya untuk bertarung. Karena Sisupala telah menghina Kresna bertubi-tubi dan dilakukan di hadapan banyak orang, maka Kresna memenuhi tantangan Sisupala. Dalam pertempuran, Sisupala tidak berhasil melukai Kresna. Sebaliknya, Kresna menebas leher Sisupala dengan Cakra Sudarsana.

b. Kamsa
     Kamsa , atau yang dalam bahasa Hindi disebut Kans, adalah seorang tokoh kesusastraan agama Hindu yang menjadi musuh pertama Kresna. Ia merebut takhta Mathura dari tangan Ugrasena serta memenjarakan ayahnya itu, beserta Basudewa ayah Kresna. Kamsa adalah putra Padmawati dan Ugrasena.

     Setelah dewasa, Kamsa sangat berambisi untuk segera menggantikan Ugrasena sebagai raja di Mathura. Apalagi ia sering dihasut oleh orang kepercayaannya, yang bernama Banasura. Penasihatnya yang lain, yaitu Canur menyarankan agar Kamsa menikahi dua orang puteri Jarasanda raja Kerajaan Magadha, yang juga sahabat Banasura. Nama kedua putri itu adalah Asti dan Prapti.  Kamsa akhirnya berhasil menjadi menantu dan sekutu Jarasanda. Pasukan Magadha yang dikirim Jarasanda untuk mengawal kedua putri digunakan Kamsa untuk memaksa Ugrasena turun dari takhta Mathura. Ugrasena kemudian dijebloskan ke dalam penjara istana.

      Kamsa memiliki sepupu bernama Dewaki yang dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Dewaki menikah dengan Basudewa dan pernikahan mereka dirayakan secara meriah oleh Kamsa. Tiba-tiba terdengar suara dari langit bahwa kelak Kamsa akan mati di tangan anak Dewaki.  Karena panik, Kamsa pun menjebloskan Basudewa dan Dewaki ke dalam penjara. Setiap kali Dewaki melahirkan, Kamsa langsung membunuh bayinya. Hal ini berlangsung sampai enam kali. Pada kehamilan ketujuh, istri pertama Basudewa yang bernama Rohini datang menjenguk. Secara ajaib, kandungan Dewaki pun berpindah ke dalam rahim Rohini.

       Pada kelahiran bayi kedelapan, tiba-tiba datanglah pertolongan dewata. Pintu penjara terbuka dan seluruh penjaga tertidur lelap. Basudewa pun dengan mudah membawa bayinya pergi untuk dititipkan kepada sahabatnya yaitu Nanda. Setelah itu, Basudewa membawa bayi perempuan anak Nandagopa kembali ke penjara.  Esok paginya, Kamsa datang ke penjara untuk membunuh bayi Dewaki yang baru lahir. Ketika melihat bayi tersebut ternyata perempuan, ia pun merasa menang atas ramalan dewata.

        Bayi yang dilahirkan oleh Rohini dan Dewaki masing-masing tumbuh menjadi pemuda bernama Balarama dan Kresna. Keduanya dibesarkan oleh pasangan Nanda (mitologi) dan Yasoda di lingkungan pedesaan. Kamsa akhirnya mengetahui keberadaan keduanya. Mereka pun diundang ke Mathura untuk menghadiri pesta perayaan. Ketika keduanya tiba di Mathura, Kamsa mencoba untuk membunuh mereka. Namun ramalan dewata benar-benar menjadi kenyataan. Dalam sebuah perkelahian, justru Kresna yang berhasil membunuh Kamsa.

    
Setelah menjalani tiga kali kehidupan sebagai musuh Wisnu, Jaya dan Wijaya kembali ke Waikuntha dan bisa kembali ke posisinya semula.

2 Feb 2015

Jaya dan Wijaya Penjaga Gerbang Kediaman Dewa Wisnu (Bagian Dua)

Dikisahkan bahwa di tempat kediaman dewa Wisnu atau Waikuntha ada dua orang penjaga gerbang yang setia yang bernama Jaya dan Wijaya.

Menurut cerita dari Bhagawatapurana, Catursana, anak dari Dewa Brahma mengunjungi Waikuntha, tempat tinggal Dewa Wisnu, untuk melihatnya. Jaya dan Wijaya melarang Catursana untuk memasuki Waikuntha. Catursana marah sebab Jaya dan Wijaya tidak mengetahui sosok Catursana yang sebenarnya. Mereka juga memberitahu Catursana bahwa Sri Wisnu sedang beristirahat dan bahwa mereka tidak dapat melihat dia sekarang. Catursana mengutuk Jaya dan Wijaya agar turun ke dunia untuk mengalami reinkarnasi. Wisnu yang berbelas kasihan mengajukan penawaran kepada Jaya dan Wijaya. Mereka diperbolehkan untuk memilih turun ke dunia sebagai pemuja Wisnu selama tujuh kehidupan, atau sebagai musuh Wisnu selama tiga kehidupan. Wisnu juga berjanji bahwa setelah menjalani salah satu pilihan tersebut, Jaya dan Wijaya akan kembali lagi ke Waikuntha dan tinggal di sana selama-lamanya. Karena Jaya dan Wijaya ingin menjalani kehidupan di dunia sesingkat mungkin, maka mereka memilih untuk dilahirkan berulang-ulang selama tiga kehidupan. Pilihan tersebut memaksa Jaya dan Wijaya untuk menjalani kehidupan sebagai musuh Wisnu.


Kiri Rahwana/Dasamuka, Kanan Kumbakarna yang sedang tertidur

2.Pada masa Tretayuga, Jaya dan Wijaya lahir kembali sebagai Rahwana dan Kumbakarna, putera Wisrawa.

a. Kumbakarna
    Dalam wiracarita Ramayana, Kumbakarna adalah saudara kandung Rahwana, raja rakshasa dari Alengka. Kumbakarna merupakan seorang rakshasa yang sangat tinggi dan berwajah mengerikan, tetapi bersifat perwira dan sering menyadarkan perbuatan kakaknya yang salah. Ia memiliki suatu kelemahan, yaitu tidur selama enam bulan, dan selama ia menjalani masa tidur, ia tidak mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

     Ayah Kumbakarna adalah seorang resi bernama Wisrawa, dan ibunya adalah Kekasi, puteri seorang Raja Detya bernama Sumali. Rahwana, Wibisana dan Surpanaka adalah saudara kandungnya, sementara Kubera, Kara, Dusana, Kumbini, adalah saudara tirinya.  Saat Rahwana dan Kumbakrana mengadakan tapa, Dewa Brahma muncul karena berkenan dengan pemujaan yang mereka lakukan. Brahma memberi kesempatan bagi mereka untuk mengajukan permohonan. Saat tiba giliran Kumbakarna untuk mengajukan permohonan, Dewi Saraswati masuk ke dalam mulutnya untuk membengkokkan lidahnya, maka saat ia memohon "Indraasan" (Indrasan – tahta Dewa Indra), ia mengucapkan "Neendrasan" (Nindrasan – tidur abadi). Brahma mengabulkan permohonannya. Karena merasa sayang terhadap adiknya, Rahwana meminta Brahma agar membatalkan anugerah tersebut. Brahma tidak berkenan untuk membatalkan anugrahnya, namun ia meringankan anugrah tersebut agar Kumbakarna tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan. Pada saat ia menjalani masa tidur, ia tidak akan mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

   Saat Kerajaan Alengka diserbu oleh Rama (yang merupakan awatara Dewa Wisnu) dan sekutunya (karena hendak membebaskan Sita/Sinta), Rahwana memerintahkan pasukannya untuk membangunkan Kumbakarna yang sedang tertidur. Utusan Rahwana membangunkan Kumbakarna dengan menggiring gajah agar menginjak-injak badannya serta menusuk badannya dengan tombak, kemudian saat mata Kumbakarna mulai terbuka, utusannya segera mendekatkan makanan ke hidung Kumbakarna. Setelah menyantap makanan yang dihidangkan, Kumbakarna benar-benar terbangun dari tidurnya.

     Setelah bangun, Kumbakarna menghadap Rahwana. Ia mencoba menasihati Rahwana agar mengembalikan Sita dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan kakaknya itu adalah salah. Rahwana sedih mendengar nasihat tersebut sehingga membuat Kumbakarna tersentuh. Tanpa sikap bermusuhan dengan Rama, Kumbakarna maju ke medan perang untuk menunaikan kewajiban sebagai pembela negara. Sebelum bertarung Kumbakarna berbincang-bincang dengan Wibisana, adiknya, setelah itu ia berperang dengan pasukan wanara.

    Dalam peperangan, Kumbakarna banyak membunuh pasukan wanara dan banyak melukai prajurit pilihan seperti Anggada, Sugriwa, Hanoman, Nila, dan lain-lain. Dengan panah saktinya, Rama memutuskan kedua tangan Kumbakarna. Namun dengan kakinya, Kumbakarna masih bisa menginjak-injak pasukan wanara. Kemudian Rama memotong kedua kaki Kumbakarna dengan panahnya. Tanpa tangan dan kaki, Kumbakarna mengguling-gulingkan badannya dan melindas pasukan wanara. Melihat keperkasaan Kumbakarna, Rama merasa terkesan dan kagum. Namun ia tidak ingin Kumbakarna tersiksa terlalu lama. Akhirnya Rama melepaskan panahnya yang terakhir. Panah tersebut memisahkan kepala Kumbakarna dari badannya dan membawanya terbang, lalu jatuh di pusat kota Alengka.

b. Rahwana
     Dalam mitologi Hindu, Rahwana', Prabhu Dasa, Prabhu Dasamuka (kadangkala dialihaksarakan sebagai Raavana dan Ravan atau Revana) adalah tokoh utama yang bertentangan terhadap Rama dalam Sastra Hindu, Ramayana. Dalam kisah, ia merupakan Raja Alengka, sekaligus Rakshasa atau iblis, ribuan tahun yang lalu.  Rahwana dilukiskan dalam kesenian dengan sepuluh kepala, menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan dalam Weda dan sastra. Karena punya sepuluh kepala ia diberi nama "Dasamukha" (bermuka sepuluh), "Dasagriva" (berleher sepuluh) dan "Dasakanta" (berkerongkongan sepuluh). Ia juga memiliki dua puluh tangan, menunjukkan kesombongan dan kemauan yang tak terbatas. Ia juga dikatakan sebagai ksatria besar.

     Ibu Rahwana bernama Kaikesi, seorang puteri Raja Detya bernama Sumali. Sumali memperoleh anugerah dari Brahma sehingga ia mampu menaklukkan para raja dunia. Sumali berpesan kepada Kekasi agar ia menikah dengan orang yang istimewa di dunia. Di antara para resi, Kekasi memilih Wisrawa sebagai pasangannya. Wisrawa memperingati Kekasi bahwa bercinta di waktu yang tak tepat akan membuat anak mereka menjadi jahat, namun Kekasi menerimanya meskipun diperingatkan demikian. Akhirnya, Rahwana lahir dengan kepribadian setengah brahmana, setengah rakshasa. Saat lahir, Rahwana diberi nama "Dasanana" atau "Dasagriwa", dan konon ia memiliki sepuluh kepala. Beberapa alasan menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah pantulan dari permata pada kalung yang diberikan ayahnya sewaktu lahir, atau ada yang menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah simbol bahwa Rahwana memiliki kekuatan sepuluh tokoh tertentu.

      Saat masih muda, Rahwana mengadakan tapa memuja Dewa selama bertahun-tahun. Karena berkenan dengan pemujaannya, brahma muncul dan mempersilakan Rahwana mengajukan permohonan. Mendapat kesempatan tersebut, Rahwana memohon agar ia hidup abadi, namun permohonan tersebut ditolak oleh Brahma. Sebagai gantinya, Rahwana memohon agar ia kebal terhadap segala serangan dan selalu unggul di antara para dewa, makhluk surgawi, rakshasa, detya, danawa, segala naga dan makhluk buas. Karena menganggap remeh manusia, ia tidak memohon agar unggul terhadap mereka. Mendengar permohonan tersebut, Brahma mengabulkannya, dan menambahkan kepandaian menggunakan senjata dewa dan ilmu sihir.

       Dengan kekuatan yang diperolehnya, Rahwana melakukan penyerangan untuk menaklukkan ras manusia, makhluk jahat (asura – rakshasa – detya – danawa), dan makhluk surgawi. Setelah menaklukkan Patala (dunia bawah tanah), ia mengangkat Ahirawan sebagai raja. Rahwana sendiri menguasai ras asura di tiga dunia. Karena tidak mampu mengalahkan Wangsa Niwatakawaca dan Kalakeya, ia menjalin persahabatan dengan mereka. Setelah menaklukkan para raja dunia, ia mengadakan upacara yang layak dan dirinya diangkat sebagai Maharaja.

      Oleh karena Kubera (pemimpin dari golongan raksasa, yang juga merupakan kakak tirinya) telah menghina tindakan Rahwana yang kejam dan tamak, Rahwana mengerahkan pasukannya menyerbu kediaman para dewa, dan menaklukkan banyak dewa. Lalu ia mencari Kubera dan menyiksanya secara khusus. Dengan kekuatannya, ia menaklukkan banyak dewa, makhluk surgawi, dan bangsa naga sehingga Rahwana disebut penguasa tiga dunia.

       Selain terkenal sebagai penakluk tiga dunia, Rahwana juga terkenal akan petualangannya menaklukkan para wanita. Rahwana memiliki banyak istri, yang paling terkenal adalah Mandodari, putera Mayasura dengan seorang bidadari bernama Hema. Ramayana mendeskripsikan bahwa istana Rahwana dipenuhi oleh para wanita cantik yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Dalam Ramayana juga dideskripsikan bahwa di Alengka, semua wanita merasa beruntung apabila Rahwana menikahinya. Dua legenda terkenal menceritakan kisah pertemuan Rahwana dengan wanita istimewa. Wanita istimewa pertama adalah Wedawati, seorang pertapa wanita. Wedawati mengadakan pemujaan ke hadapan Wisnu agar ia diterima menjadi istrinya. Ketika Rahwana melihat kecantikan Wedawati, hatinya terpikat dan ingin menikahinya. Ia meminta Wedawati untuk menghentikan pemujaannya dan ia merayu Wedawati agar bersedia untuk menikahinya. Karena Wedawati menolak, Rahwana mencoba untuk melarikannya. Kemudian Wedawati bersumpah bahwa ia akan lahir kembali sebagai penyebab kematian Rahwana. Setelah berkata demikian, Wedawati membuat api unggun dan menceburkan diri ke dalamnya. Bertahun-tahun kemudian ia bereinkarnasi sebagai Sita, yang diculik oleh Rahwana sehingga Rama turun tangan dan membunuh Rahwana.

        Pada masa pengasingan Rama, Sinta dan Laksmana di hutan, mereka sering sekali diganggu oleh raksasa dan Rama dan Laksmana pun membasmi mereka. Setelah pos jaga para raksasa di Yanasthana dihancurkan oleh Rama dan Laksmana, berita tersebut disampaikan kepada Rahwana. Menteri Rahwana yang bernama Akampana menyarankan agar Rahwana mau menculik Sita, namun niat tersebut ditolak oleh Marica. Setelah adik perempuan Rahwana yang bernama Surpanaka mengadu bahwa dua orang kesatria telah melukainya, Rahwana marah besar. Ia segera menuju ke kediaman Marica untuk meminta bantuan, tanpa memedulikan nasihat baik dari Marica. Setelah rencana disusun, Marica menyamar menjadi kijang kencana untuk mengalihkan perhatian Rama, sedangkan Rahwana menyamar menjadi seorang brahmana tua yang lemah. Ketika Rama dan Laksmana berada jauh, Rahwana segera menjangkau Sita, dan setelah itu Sita dibawa kabur. Sita disekap di taman Asoka, letaknya di dalam lingkungan istana Rahwana di kerajaan Alengka. Di sana, Rahwana berkali-kali mencoba merayu Sita namun tidak pernah berhasil.

         Tindakan Rahwana mengundang kemarahan Rama. Dengan bantuan dari raja wanara bernama Sugriwa, Rama menggempur Alengka. Untuk mengantisipasi serangan Rama, Rahwana mengirimkan pasukan terbaiknya yang dipimpin oleh raksasa-raksasa kuat.  Pada hari pertempuran terakhir, Rahwana maju ke medan perang sendirian dengan menaiki kereta kencana yang ditarik delapan ekor kuda terpilih. Ketika ia keluar dari Alengka, langit menjadi gelap oleh gerhana matahari yang tak terduga. Beberapa orang berkata bahwa itu merupakan pertanda buruk bagi Rahwana yang tidak menghiraukannya sama sekali. Pertempuran terakhir antara Rama dengan Rahwana berlangsung dengan sengit. Pada pertempuran itu, Rama menaiki kereta Indra dari sorga, yang dikemudikan oleh Matali. Setiap Rama mengirimkan senjatanya untuk menghancurkan Rahwana, raksasa tersebut selalu dapat bangkit kembali sehingga membuat Rama kewalahan. Untuk mengakhiri riwayat Rahwana, Rama menggunakan senjata Brahmastra yang tidak biasa. Senjata tersebut menembus dada Rahwana dan merenggut nyawanya seketika.

1 Feb 2015

Jaya dan Wijaya Penjaga Gerbang Kediaman Dewa Wisnu (Bagian Satu)

Dikisahkan bahwa di tempat kediaman dewa Wisnu atau Waikuntha ada dua orang penjaga gerbang yang setia yang bernama Jaya dan Wijaya.
Arca Jaya dan Wijaya

Menurut cerita dari Bhagawatapurana, Catursana, anak dari Dewa Brahma mengunjungi Waikuntha, tempat tinggal Dewa Wisnu, untuk melihatnya. Jaya dan Wijaya melarang Catursana untuk memasuki Waikuntha. Catursana marah sebab Jaya dan Wijaya tidak mengetahui sosok Catursana yang sebenarnya. Mereka juga memberitahu Catursana bahwa Sri Wisnu sedang beristirahat dan bahwa mereka tidak dapat melihat dia sekarang. Catursana mengutuk Jaya dan Wijaya agar turun ke dunia untuk mengalami reinkarnasi. Wisnu yang berbelas kasihan mengajukan penawaran kepada Jaya dan Wijaya. Mereka diperbolehkan untuk memilih turun ke dunia sebagai pemuja Wisnu selama tujuh kehidupan, atau sebagai musuh Wisnu selama tiga kehidupan. Wisnu juga berjanji bahwa setelah menjalani salah satu pilihan tersebut, Jaya dan Wijaya akan kembali lagi ke Waikuntha dan tinggal di sana selama-lamanya. Karena Jaya dan Wijaya ingin menjalani kehidupan di dunia sesingkat mungkin, maka mereka memilih untuk dilahirkan berulang-ulang selama tiga kehidupan. Pilihan tersebut memaksa Jaya dan Wijaya untuk menjalani kehidupan sebagai musuh Wisnu.

Selama Jaya dan Wijaya bereinkarnasi ke dunia, mereka berdua selalu dibunuh oleh awatara Wisnu, berikut kisahnya :

1. Pada masa Satyayuga, Jaya dan Wijaya lahir sebagai Hiranyaksa dan Hiranyakasipu, putera Diti dan Kasyapa

a. Hiranyaksa
    Menurut mitologi Hindu, pada zaman Satyayuga (zaman kebenaran), ada seorang raksasa bernama Hiranyaksa, adik raksasa Hiranyakasipu. Keduanya merupakan kaum Detya (raksasa). Hiranyaksa hendak menenggelamkan Pertiwi (planet bumi) ke dalam "lautan kosmik," suatu tempat antah berantah di ruang angkasa.

Melihat dunia akan mengalami kiamat, Wisnu menjelma menjadi babi hutan yang memiliki dua taring panjang mencuat dengan tujuan menopang bumi yang dijatuhkan oleh Hiranyaksa. Usaha penyelamatan yang dilakukan Waraha tidak berlangsung lancar karena dihadang oleh Hiranyaksa. Maka terjadilah pertempuran sengit antara raksasa Hiranyaksa melawan Dewa Wisnu. Konon pertarungan ini terjadi ribuan tahun yang lalu dan memakan waktu ribuan tahun pula. Pada akhirnya, Dewa Wisnu yang menang dan membunuh Hiranyaksa..

b. Hiranyakasipu
     Dalam mitologi Hindu, Hiranyakasipu adalah seorang bangsa asura dan juga raja bangsa Dravida. Adiknya, Hiranyaksa, dibunuh oleh Waraha, salah satu awatara Wisnu. Semenjak saat itu, ia membenci Dewa Wisnu dan seluruh pengikutnya.

Sesuai dengan hasil pertapaannya, Hiranyakasipu mendapat anugerah dari Dewa Brahma, bahwa ia tidak bisa dibunuh oleh manusia, binatang ataupun Dewa; tidak bisa dibunuh saat pagi, siang, dan malam; tak bisa dibunuh di darat, laut, api, ataupun udara; tak bisa dibunuh di dalam dan di luar rumah, dan tak bisa dibunuh oleh segala senjata.

Hiranyakasipu memiliki seorang anak yang bernama Prahlada. Anaknya adalah seorang pemuja Wisnu yang taat. Oleh karena itu, ia sangat dibenci ayahnya. Namun meskipun berkali-kali berusaha dibunuh, Prahlada selalu selamat berkat kekuatan gaib dari Dewa Wisnu.

Atas berkah Dewa Brahma, ia sukar dibunuh jika tidak memilih wujud, waktu, tempat, dan senjata yang tepat. Ia bisa dibunuh jika:

    yang membunuh bukan manusia, binatang ataupun Dewa
    ia dibunuh bukan di darat, air, api, ataupun udara
    ia dibunuh bukan di dalam ataupun di luar rumah
    ia dibunuh bukan pada saat pagi, siang, ataupun malam
    ia dibunuh dengan tidak menggunakan senjata

Karena Wisnu berwujud Narasinga, berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku, Hiranyakasipu berhasil dibunuh oleh Narasinga, salah satu awatara Wisnu, yang berwujud manusia, berkepala singa, yang memiliki banyak tangan yang memegang senjata seperti Dewa. Ia dibunuh di atas pangkuannya dengan merobek-robek perutnya menggunakan kuku yang tajam, pada saat senja hari. Hal ini bisa dilakukan karena Narasinga sendiri bukan manusia, binatang ataupun Dewa (karena campuran ketiganya), dan Lokasi kejadian terja adi bukan didarat, air, api ataupun udara, apalagi dalam atau luar rumah (tapi dipangkuan Narasinga), dan tidak ada senjata yang digunakan (karena hanya menggunakan kuku/cakar).

28 Jan 2015

Cinta (?)

Apakah itu Cinta (?)
Sebetulnya cinta ini ada didalam diri kita tapi terkadang kita sendiri kurang menyadari kalau sudah ada cinta didalam diri kita. Karena bersyukurlah kalau kita menyadari kalau didalam diri kita ada cinta. Jika Arjuna pernah berucap "Jangan pernah berbicara mengenai kebenaran jika belum mengetahui apa itu kebenaran. -Kitab Karna Parva", Maka Penulis Berucap "Jangan pernah bicara mengenai Cinta jika belum bisa mengetahui apa itu Cinta"

Ada perbedaan yang cukup mencolok antara Cinta dan Kebutuhan yang selama ini sering disalah artikan. Coba kita tanyakan dalam diri sendiri, ketika berpasangan kenapa bisa saling bersama kalau jawabannya hanya kalau dia cantik/tampan, dia mapan/kaya, dan masih banyak lagi hanya seputar fisik, materi, ataupun status. Sehingga ketika saya susah dia bisa bantu saya, ketika saya sakit dia bisa rawat saya. Itu adalah kebutuhan. 

Sedangkan jika jawabannya adalah karena bersamanya saya bahagia, saya bisa membahagiakan dia, saya bisa berbagi kondisi senang ataupun susah, setiap kali dia susah saya bisa bantu dia. Tanpa Memandang dia cantik/tampan, dia mapan/kaya, dan sebagainya yang hanya seputar fisik, materi ataupun status itu adalah Cinta. Cinta itu memberi satu sama lain bukan saling menuntut satu sama lain.

Contohnya Ketika ada sepasang Suami Istri yang baru menikah ditanya bagaimana kehidupan berumah tangga. Sang Suami menjawab, enak kalau sudah menikah itu ada yang mengurus ada yang memasakan makanan, ada yang mencucikan pakaian, ada yang membantu beres-beres rumah. Sedangkan Sang Istri Menjawab Kalau Sudah menikah itu enak, ada pasangan untuk berbagi saya bisa membuat ia berbahagia walaupun lebih banyak lagi pekerjaan yang dilakukan namun dengan membuat ia berbahagia itu juga membuat saya berbahagia. Disini terlihat Sang Suami itu Butuh, Sedangkan Sang Istri itu Cinta terhadap suaminya, karena ia bisa bahagia hanya dengan membuat suaminya bahagia.

Atau Contoh lainnya, Sepasang Suami Istri yang menikah ketika ditanya bagaimana kehidupan setelah Menikah. Sang istri menjawab, enak setelah menikah mau uang belanja tinggal minta, mau pergi kemana-mana ada yang mengantarkan, mau segala sesuatu tinggal minta ke suami. Sedangkan Sang suami menjawab, enak setelah menikah itu saya bisa membuat pasangan saya ini berbahagia karena dengan melihat dia berbahagia saya pun turut berbahagia. Disini terlihat Sang Suami itu Cinta karena ingin membahagiakan, sedangkan sang Istri itu butuh.

Adapun Contoh lainnya, Sepasang Suami Istri yang baru menikah ketika ditanya bagaimana kehidupan setelah Menikah. Sang Suami Menjawab. enak kalau sudah menikah itu ada yang mengurus ada yang memasakan makanan, ada yang mencucikan pakaian, ada yang membantu beres-beres rumah. Sedangkan Sang istri menjawab, enak setelah menikah mau uang belanja tinggal minta, mau pergi kemana-mana ada yang mengantarkan, mau segala sesuatu tinggal minta ke suami. Nah pada kalau kali ini keduanya ternyata sama-sama butuh.

Contoh Lainnya lagi adalah, Sepasang Suami Istri yang baru menikah ketika ditanya bagaimana kehidupan setelah Menikah. Sang suami menjawab, enak setelah menikah itu saya bisa membuat pasangan saya ini berbahagia karena dengan melihat dia berbahagia saya pun turut berbahagia. Sedangkan Sang Istri Menjawab Kalau Sudah menikah itu enak, ada pasangan untuk berbagi saya bisa membuat ia berbahagia walaupun lebih banyak lagi pekerjaan yang dilakukan namun dengan membuat ia berbahagia itu juga membuat saya berbahagia.

Penulis mengutip potongan ceramah dari Pemuka Agama Buddha Di Indonesia Yaitu Bhante Uttamo "cinta tidak harus butuh balasan, yang butuh balasan hanya Transaksi Jual Beli. Karena mencintai sudah cukup menimbulkan kebahagiaan, membalas untuk mencintai ataupun tidak itu terserah dari orang yang kita cintai."


Jadi Sekali lagi "Jangan Pernah Bicara Akan Cinta , Jika kita belum mengetahui apakah Cinta"