31 Mar 2015

Bike to Work

Ilustrasi Penulis ketika Bike to Work
Bike to Work , adalah kegiatan yang berarti kita berkendara menggunakan sepeda untuk sampai ke tempat kerja. Entah kenapa belakangan ini kegiatan ini makin banyak saja pelakunya. Mungkin juga jadi ngetrend karena Presiden RI ke 7 itu juga hobi bersepeda juga kali ya hehehe.

Bicara soal Bike to Work (selanjutnya diketik b2w , biar gak capek :p ) penulis sendiri sudah menjalani sejauh ini dikala sudah melewati musim penghujan (min 1x dalam sepekan), karena kalau musim hujan sengsara hujan-hujanan naik sepeda. Hal yang diperlukan untuk melakukan b2w cukup sederhana pertama adalah Sepeda, kedua adalah kemampuan untuk naik sepeda dan yang terakhir itu Niat.

Jika ketiga elemen pendukung itu sudah dimiliki tentulah kita juga bisa melakukan b2w, jangan pernah takut untuk melakukan b2w karena selain untuk mempersehat diri juga bisa untuk mengurangi tingkat polusi atau pencemaran udara dibandingkan kita menggunakan kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil.

Namun diperhatikan juga jarak rumah ke tempat kerja seberapa jauh, karena pernah ada seorang kawan eks rekan kerja di kantor lama niatnya sudah bulat dia pergi ke tempat kerja dengan bersepeda. Namun dikarenakan jarak rumahnya ke tempat kerja itu cukup jauh, naik sepeda bisa 2jam lho. Akhirnya dia nyerah dan walau pergi naik sepeda tapi pulang minta dijemput pakai mobil sama keluarganya. Ketika ditanya "pelaku" nya hanya menjawab kan "bike to work" bukan "bike to home" hehehe, benar juga kalau dipikir kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia memang benar.

Sering pula saya bertemu dengan "oknum-oknum" (jadi kayak diberita aja pakai disebut oknum) yang terlalu arogan untuk b2w, biasanya ciri mereka adalah yang penting ikutan trend dan tentu saja penuh gaya. Mulai dari Sepeda sampai dengan perangkat penunjangnya lengkap dan pastinya harus bermerk ternama. Kalau dijalan biasanya bawaannya maunya cepat dalam gowes padahal untuk stamina dalam gowesnya sendiri masih kalah sama tukang somay keliling yang biasa gowes sepeda santai, karena kalau kita perhatikan tukang somay keliling itu sendiri bukan b2w lagi tapi BOW (bike on work) hehehehe.

Terkadang sering pula ketika dijalan pada saat b2w penulis merasa tertindas oleh para pengendara lain yang menggunakan kendaraan berkendaraan bahan bakar fosil, bahkan sampai didesak benar-benar kepinggir secara mendadak. Untungnya penulis sudah berpengalaman bersepeda lebih dari 20tahun (belajar naek sepeda umur 7tahun hehehe) jadinya tidak sampai atraksi jumpalitan ditepi jalan ataupun terjun bebas ke selokan ketika ditindas. Namun terkadang disitu saya merasa sedih :p

Kalau gak bisa b2w terkadang juga penulis w2w (walk to work) , soalnya jarak rumah ke tempat kerja cuma kurang dari 2km hehehe :D

30 Mar 2015

Belajarlah Untuk Melihat Perbedaan

ini bahan eksperimen nya :D
Kali ini penulis ingin berkisah tentang pengalaman pribadi dan hasil ujicoba yang penulis alami sebelum, lagi-lagi kali ini tentang sudut pandang dan Asumsi. Pada awal tahun 2015 penulis membeli 2pasang sandal jepit (flip flop , bahasa kerennya) yang sesuai dengan ukuran kaki penulis dan berwarna hitam sepasang dan putih sepasang. Melihat pasangan sandal jepit yang ukuran, bentuk yang identik namun berbeda warnanya itu terbersit dipikiran penulis untuk bereksperimen untuk mengamati prilaku dan sifat manusia dan juga untuk menguatkan mental penulis.

Hal yang penulis lakukan adalah memakai sandal hitam pada kaki sebelah kanan dan sandal yang berwarna putih pada kaki sebelah kiri, hal itu penulis lakukan kurang lebih sekitar 3pekan didalam menjalankan kegiatan sehari-hari penulis. Dari mulai berangkat dari rumah ke tempat kerja baik menggunakan kendaraan baik yang menggunakan bahan bakar ataupun gowes sendiri ataupun berjalan kaki. Bahkan ketika pergi ke tempat umum seperti supermarket untuk berbelanja keperluan sehari-hari ataupun pergi ketempat ibadah pun penulis masih menggunakan sepasang sandal unik tersebut.

Dari selama 3minggu tersebut reaksi orang-orang yang penulis temui itu beragam dan berbeda-beda, ada yang ketawa secara terang-terangan menyaksikan hal yang mungkin lucu menurutnya (gimana gak lucu liat orang tinggi besar pakai sandal jepit warnanya berbeda sebelah kiri dan kanan apalagi perbedaan warnanya mencolok). Ada yang tertawa dibelakang secara diam-diam sambil mungkin menganggap penulis sudah kehilangan kesehatan mentalnya. Ada yang menganggap hal dilakukan penulis itu keren karena konon katanya anti mainstream (alias berani melawan arus dan tampil beda). Ada yang cuek saja, siapa pula yang memperhatikan alas kaki yang anda pakai toh. Bahkan ada juga yang bertanya karena bingung dan heran.

Untuk yang bertanya kepada penulis karena bingung , penulis memberikan penjelasan kepada mereka. Bahwa sesungguhnya fungsi sandal jepit adalah alas kaki , yang berguna untuk melindungi telapak kaki agar tidak terluka ketika berjalan dipemukaan jalan yang tidak rata ataupun untuk mencegah agar kaki kita itu tidak mudah terpeleset dikarenakan sandal itu tidak licin ketika dipermukaan lantai/tanah yang kita injak. Sedangkan mengenai warna ataupun bentuk tidak usah terlalu dipermasalahkan , karena hal itu diluar fungsi utama dari sandal yang merupakan alas kaki.

Hal yang mengecewakan adalah kadang penulis dikucilkan karena dianggap tidak sehat secara mental oleh beberapa kelompok, kadang disitu saya merasa sedih :( . Karena disana mereka hanya melihat segala sesuatu hanya melalui tampilan luarnya dan membuat asumsi sekenanya sesuai dengan pikiran ataupun lingkungan mereka.

Jadi untuk pembaca yang mungkin pernah melihat orang tinggi besar pakai sandal jepit beda sebelah warnanya atau belang warnanya pada awal tahun 2015 , kalian mungkin pernah bertemu penulis. Dan dengan tulisan ini penulis memberitahu bahwa penulis itu sehat baik secara fisik dan mental. Penulis juga bukan orang yang menukar atau alas kakinya ditukar disuatu tempat ibadah, ataupun penulis bukan orang yang tidak mampu membeli sepasang sandal jepit baru yang warnanya sama atau juga penulis bukan orang yang ingin terlihat berbeda ataupun "nyentrik" karena memakai sesuatu yang mungkin diluar kebiasaan.

Hal yang ingin penulis lakukan adalah untuk melakukan sedikit eksperimen dan mematahkan kebiasaan lama dari orang-orang disekitar penulis yang mungkin sudah terbiasa membuat asumsi sendiri dikarenakan melihat sesuatu yang berbeda seperti "kebanyakan" atau "kebiasaan". Dan penulis juga tidak ingin menyarankan pembaca untuk mengikuti jejak penulis, karena jika kalian mentalnya tidak kuat justru bisa mengalami gangguan kesehatan mental karena celaan-celaan sinis dari lingkungan sekitar.

note bawah :

sekarang penulis sudah kembali seperti "biasa" memakai alas kaki yang warnanya selaras dan sama baik bentuk ataupun warnanya, bukan berarti penulis sembuh dari "sakit" mental, karena penulis memang dari dulu  juga memang sehat secara fisik ataupun mental.

 Dan juga mohon maaf jika memang ada yang tidak berkenan akan tulisan penulis ini, karena yang penulis lakukan hanyalah menuliskan pengalaman pribadi dan eksperimen yang pernah penulis lakukan. Jika ada pembaca yang ingin mencoba penulis tidak melarang namun resiko ditanggung sendiri "try with your own risk".

29 Mar 2015

Jangan Pernah Membuat Asumsi (cobalah berpikir diluar "Kotak")

Terkadang segala sesuatu terlihat tidak seperti yang aslinya, cobalah sesekali ubah sudut pandang didalam melihat segala hal. Dan yang terpenting kalau hanya baru melihat, mendengar ataupun mengetahui dari satu sisi jangan sekali-kali membuat asumsi. Karena dengan adanya asumsi tersebut itulah tembok penghalang terbesar didalam proses dalam mencapai tujuan. Kali ini penulis akan berbagi sebuah kisah yang bertemakan tentang cara mengubah paradigma atau sudut pandang didalam hidup tanpa perlu membuat asumsi terlebih dahulu.

Alkisah ada sebuah perusahaan yang memproduksi dan menjual sisir, perusahaan tersebut adalah perusahaan multinasional yang terkenal namanya dimana-mana. Pada suatu ketika perusahaan tersebut membuka sebuah lowongan pekerjaan untuk menjadi tenaga penjual atau lebih dikenal dengan istilah keren sales marketing, dan dari sekian banyak calon pelamar pekerjaan terpilihlah 3orang kandidat terkuat untuk mengisi posisi yang dibutuhkan anggap saja namanya Ali, Bandi, dan Cuplis (bukan nama sebenarnya).

Sebagaimana para pekerja pemula Ali, Bandi dan Cuplis mendapatkan waktu untuk uji coba dalam pekerjaan yaitu selama 3bulan. Dalam waktu uji coba tersebut mereka mendapatkan sebuah tugas dari perusahaan, tugasnya adalah menjual produk perusahaan yaitu sisir disuatu tempat. Tempat yang ditunjuk oleh perusahaan tersebut adalah Biara/Kuil Shaolin yang cukup terkenal diseluruh dunia, dan mereka diberikan target untuk dapat menjual 100ribu buah sisir dalam waktu 3bulan di biara Shaolin tersebut secara bergantian.

Ali yang berpikir monoton kebingungan untuk menjual produk mereka, karena Ali berpikir yang namanya biara Shaolin isinya adalah para bhiksu. Dan kita semua sudah mengetahui sudah bahwa bhiksu itu tidak memiliki rambut dikepalanya jadi tidak mungkin memerlukan sisir, apalagi sampai dengan jumlah 100ribu buah. Maka setelah waktu 3bulan yang ditentukan Ali gagal dalam menjual sisir satupun.

Bandi yang berpikir sedikit lebih kreatif dari Ali juga awalnya kebingungan seperti Ali, namun Bandi tidak kehabisan akal dia mencoba menjual produk sisirnya kepada orang-orang yang berada disekitar biara dan juga kepada para pengunjung biara tersebut. Dikarenakan usahanya tersebut menjual 500buah sisir saja dalam waktu 3bulan yang diberikan dan tentu saja Bandi gagal mencapai target yang diberikan oleh perusahaannya.

Sedangkan Cuplis yang juga awalnya kebingungan didalam memasarkan produknya tersebut, mengamati terlebih dahulu dan ia menyadari bahwa ada ratusan ribu pengunjung yang mengunjungi biara Shaolin tersebut setiap minggunya, namun Cuplis mencoba cara yang berbeda dengan Bandi. Hal yang dilakukan Cuplis adalah ia menemui kepala biara dan mengajukan proposal kerjasama , kerjasama yang ditawarkan adalah produk sisir yang dijual Cuplis diberi tanda tangan dan stempel biara shaolin dan Cuplis mendirikan sebuah Stand untuk menjual sisir-sisir yang sudah diberi tanda tangan dan stempel biara sebagai souvenir khas biara Shaolin, yang mana nantinya sebagian keuntungannya akan didanakan untuk pembangunan biara. Hasil yang didapat sungguh luar biasa Cuplis mampu menjual 500ribu buah sisir sebagai souvenir didalam waktu yang ditentukan dan akhirnya ia diangkat menjadi Manager Sales Marketing perusahaan sisir tempatnya bekerja. Sementara sisir yang dijual disana menjadi terkenal menjadi souvenir khas biara Shaolin dan juga biara dapat memperoleh dana untuk pembangunan serta pemeliharaan biara dari kerjasama penjualan souvenir tersebut.

Setelah melihat kisah tersebut ada hal yang bisa disimpulkan, bahwa sebaiknya kita janganlah pernah membuat asumsi tertentu dalam menghadapi segala sesuatu dan kita juga perlu mencoba untuk berpikir diluar "kotak" yang mungkin pada awalnya terlihat melawan arus namun pada akhirnya jika dijalankan dengan serius akan memberikan hasil yang manis akhirnya.

note bawah : kisah tersebut hanyalah fiksi belaka, jika memang ada kesamaan nama, tempat itu adalah suatu kesengajaan penulis agar kisah ini lebih dapat mudah dicerna. Jika memang ada pihak yang tidak berkenan, penulis mohon maaf sebelumnya karena penulis tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun.



28 Mar 2015

Janganlah pernah menyimpan Dendam

Alkisah ada dua orang sahabat yang bernama A dan B, mereka bersama-sama pergi berlayar menggunakan kapal laut untuk merantau. Naas ditengah pelayaran kapal tersebut karam, namun A dan B bisa berhasil selamat dan terdampar disebuah pulau terpencil dan hanya ada mereka berdua saja dipulau terpencil tersebut.

Pada mulanya semua berjalan dengan sesuai, namun tibalah saat ketika terjadi cekcok atau perselisihan diantara mereka. Sehingga mereka pun tidak saling tegur sapa sama sekali bahkan memecah pulau tersebut menjadi dua bagian dan diberikan sebuah batas yang mana batas tersebut tidak boleh dilanggar pihak lain.

Ketika keadaan semakin sulit dikarenakan hanya bekerja sendirian B pun berdoa agar diberikan kemudahan dalam mencari makanan, keesokan harinya secara ajaib banyak ikan segar yang terdampar bagian pulau milik B dikarenakan B masih bermusuhan dengan A maka ia pun menyimpan makanan itu sendiri.

Disaat B merasa kesepian B pun berdoa agar bisa mendapat sebuah alat komunikasi yang bertujuan untuk berkomunikasi dan minta pertolongan agar bisa dijemput keluar dari pulau terpencil tersebut. Keesokan harinya sungguh ajaib ada bagian radio kapal yang dolo ditumpangi oleh A dan B terdampar dipulau bagian milik B dan alat komunikasi radionya masih berfungsi. Namun dikarenakan B masih bermusuhan dengan A maka iapun menyimpan radio itu sendiri.

Setelah mendapatkan radio B berusaha mengirimkan sinyal minta tolong agar bisa keluar dari pulau terpencil tersebut dan juga tidak lupa ia berdoa agar ada pertolongan yang datang dikarenakan sinyal minta tolong yang ia kirimkan. Ajaibnya keesokan harinya ada kapal nelayan yang datang kepulau bagian si B dan menjemput B, namun dikarenakan B masih bermusuhan dengan A maka ia pun berkata ia hanya sendirian dipulau tersebut dan meninggalkan A begitu saja dibagian pulau milik A.

Ketika ditengah pelayaran pulangnya kapal nelayan yang mengangkut B mengalami kecelakaan dan kali ini B tidak bisa selamat lagi dan langsung tewas seketika. Ketika B sudah meninggal ia bertemu dengan malaikat maut, dan malaikat mau tersebut marah terhadap B dan menyebut B sebagai orang yang kurang ajar dan tidak tahu diri. Dan malaikat mautpun bercerita kepada B bahwa ketika ia berdoa meminta segala sesuatu dan terkabul, hal itu bisa terjadi dikarenakan bahwa ada doa dari A yang isinya hanya sederhana yaitu semoga semua doa dari B bisa terkabul. B yang menyadari hal tersebut menyesal, namun sayang hal yang sudah terjadi tidak bisa terulang.

Cerita diatas hanyalah sebuah ilustrasi dan fiksi rekaan penulis belaka, terkadang ketika terjadi perselisihan sulit atau berat sekali untuk mengungkapkan permintaan maaf dan lebih celakanya lagi masih menyimpan rasa dendam didalam hati.

Skema Ponzi, Penipuan Keuangan Berkedok Investasi yang Bodong

Belakangan ini penulis sedang tertarik mengamati geliat bisnis dari berbagai bidang yang berada disekeliling penulis, ada yang bisnisnya memang bagus ada pula yang hanya "penipuan" berkedok investasi. Dalam hal investasi bodong ternyata ada sejarahnya dan ternyata memang ada "penemu" sistem ini ia bernama Charles Ponzi dan sistem yang "ditemukan" nya terkenal dengan nama Skema Ponzi.

Charles Ponzi lahir di Italia dengan nama Carlo Ponzi dan pindah ke New York pada tahun 1893 serta mengubah namanya menjadi Charles Ponzi. Saat itu usianya 15 tahun, dan dia suka mencari berbagai jalan singkat menuju kekayaan. Dia pernah masuk penjara di Kanada (karena penipuan surat berantai dan penggunaan cek palsu) dan juga di Atlanta (untuk skema imigrasi ilegal). Akhirnya Ponzi pindah ke Boston tahun 1919.

Berpindah kerja dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Boston, pria berbadan kecil ini (tingginya sekitar 156 cm, walaupun sering tidak memiliki pekerjaan, namun selalu mengenakan pakaian yang elegan) bertekad mengubah realita hidupnya. Dia sering begadang membayangkan berbagai cara untuk menjadi kaya dengan cepat.

Boston bukanlah tempat yang sesuai untuk menjadi orang miskin. Kota itu penuh dengan orang kaya dengan gaya hidup yang mewah, hal ini membuat Ponzi muda frustrasi dan sangat kecewa. Dia terus memeras otak untuk memikirkan bagaimana caranya dia akan mendapatkan sebagian dari kemakmuran yang berlimpah di kota barunya. Selama waktu itu, Ponzi juga tidak lupa untuk selalu menyurati keluarga dan saudaranya yang mungkin sedang khawatir padanya, mengingat masa itu adalah masa perang dunia pertama.

Surat-surat yang dia tulis ini kemudian memberikan Ponzi sebuah gagasan yang di kemudian hari dia ilustrasikan sebagai sebuah “gagasan hebat.” Ponzi sendiri mungkin tidak menyangka, skema yang dia ciptakan ini pada akhirnya menjadi bentuk lain dari sistem spekulasi mata uang modern.

Di awal 1900-an, seseorang dapat menyertakan sebuah kupon di dalam surat untuk menghemat biaya koresponden untuk membeli perangko. Sebuah organisasi yang dinamakan International Postal Union mengeluarkan kupon yang dapat diperdagangkan di sejumlah negara tertentu untuk mendapatkan perangko setempat.

Ponzi menemukan bahwa kupon-kupon yang dibeli di negara yang ekonominya lemah dapat dijual dengan sejumlah keuntungan di Amerika Serikat. Dia memutuskan untuk menggunakan sedikit uang yang dengan susah payah dia tabung untuk mencoba “gagasan hebat” ini. Sayangnya, dalam waktu singkat dia menemukan bahwa ada berbagai hal lainnya di skema ini yang membuat impiannya tidak bisa berhasil. Terutama adalah bahwa mayoritas keuntungan pada akhirnya ternyata kembali ke organisasi postal.

Namun, walaupun gagasan hebat dia tidak berhasil, hal yang lain muncul. Setiap kali dia membicarakan skema ini dengan orang lain, mereka tampaknya percaya dan tertarik untuk mendengar lebih lanjut. Teman-teman dan keluarga mereka akan selalu bertanya padanya, tanpa curiga, bagaimana rencana ini harus dilakukan. Orang-orang sangat tertarik dengan investasi ini, walaupun Ponzi sudah tahu skema itu sebenarnya tidak berhasil.

Jadi, di akhir tahun 1919, Ponzi mengambil keputusan yang akan membuat namanya tercatat di sejarah sebagai salah satu icon paling terkenal di dunia penipuan. Dia berhenti membeli kupon perangko internasional dan berurusan dengan birokrasi tak berujung. Mulai saat itu dia fokus untuk melakukan hal yang lebih menguntungkan, yaitu mencari investor.

Pada Desember 1919, Ponzi mulai menggunakan nama baru, “Charles” Ponzi. Dengan modal $150, dia mulai meminjam uang dengan memberikan nota-nota pengembalian di masa mendatang. Dia mulai mengundang teman-teman dan saudara mereka untuk ikut di program yang dia sebut sebagai “Rencana Ponzi.”

Ponzi mengklaim bahwa dia bisa menghasilkan keuntungan 100% dalam beberapa bulan. Masalahnya adalah dia kekurangan modal untuk mengeksploitasi kelemahan sistem postal internasional. Karena masih ada ruang untuk pertumbuhan, dia tidak keberatan untuk berbagi keuntungan dengan investor.

Ponzi melakukan presentasinya secara berhasil. Dia memberi contoh bahwa sebuah kupun yang dia beli di Spanyol dengan harga satu sen dapat ditukar dengan nilai ekuivalen enam sen di Amerika. Keuntungannya adalah lima kali lipat! Nada bicaranya begitu meyakinkan sehingga banyak orang mempercayainya.

Apapun juga yang dia katakan, dia berhasil. Beberapa orang, termasuk teman dekat dan saudara mereka, memutuskan untuk berjudi dengannya, dan Ponzi berhasil mengumpulkan $1.250 dari mereka. 90 hari kemudian, Ponzi memberikan bunga kepada mereka sebesar $750. Investor yang terkagum-kagum padanya menceritakan kisah ini kepada lebih banyak orang. Dalam waktu singkat, kantor Ponzi penuh dengan orang-orang serakah yang ingin menginvestasikan uang mereka kepadanya.

Dengan perjanjian tertulis bahwa dia akan membayar $150 dalam waktu 90 hari untuk setiap $100 yang dia terima, Ponzi berhasil meyakinkan ribuan orang yang akhirnya memberikan jutaan dolar kepadanya (termasuk ¾ anggota kepolisian Boston). Dia juga kadang-kadang menenangkan kebimbangan investornya dengan melunasi pembayarannya dalam waktu 45 hari. Dalam delapan bulan, dia mengumpulkan $9 juta, yang mana kewajibannya adalah $14 juta. Dia membayar agennya komisi sebesar 10%. Termasuk 50% bunga pinjaman kepada investor, bunga yang harus dia bayar sebenarnya adalah 60%.

Tetapi metode finansial gaya Ponzi tidak berdasarkan keuntungan riil dalam berbisnis. Dia menggunakan uang investor baru untuk membayar uang investor lama yang jatuh tempo. Walaupun penuh dengan uang tunai, sebenarnya Ponzi tidaklah menghasilkan uang apapun. Dalam suatu proses pengadilan di kemudian hari, terbukti bahwa sebenarnya Ponzi berada dalam kondisi yang sangat kepepet, semakin besar bisnisnya, semakin besar masalahnya. Dia sama sekali tidak melakukan investasi apapun, semua uang yang sedang dia pegang adalah uang orang-orang yang berhasil ditipunya.

Suatu saat, Ponzi mendapatkan $200 ribu dalam sehari, dengan dividen 50% dalam 90 hari. Akhirnya, dia menaikkan janjinya dengan memberikan 100% bunga dalam tiga bulan. Para investor pun antri menyerahkan uang kepadanya.

Ponzi adalah seorang genius dalam memanipulasi orang. Sebagai contoh: bila seorang investor mau mengambil uang mereka yang jatuh tempo, mereka harus berjalan melewati kantor mereka untuk sampai ke counter yang antriannya sangat panjang karena cuma ada dua atau tiga counter yang buka.

Setelah uang ada di tangan, para investor ini berjalan keluar dengan menghadapi belasan counter investasi yang antriannya pendek. Mayoritas kemudian tergoda untuk menginvestasikan lagi uang mereka. Sangat sedikit orang yang berjalan keluar dari kantor Ponzi dengan uang di tangan.

Di puncak masa likuiditasnya, Ponzi menjadi seorang maniak shopping. Dia menghabiskan waktunya untuk membeli baju baru, jam emas, berlian untuk istrinya, sebuah mobil limosin, dan juga villa 20 kamar di Lexington, pinggir kota Boston. Seperti yang juga dilakukan para penipu yang mengikuti jejaknya, Ponzi menghabiskan sejumlah besar waktunya untuk membelanjakan uangnya.

Di awal bulan Juli 1920, Ponzi mendapatkan omset $1 juta per minggu. Pada suatu hari, Ponzi membawa sebuah tas berisi uang tunai $3 juta menuju Hanover Trust Co., dan membeli sejumlah saham di bank tersebut. Sayang kesuksesan dia tidak berlangsung lama.

Karena setiap hari ada ratusan orang antri di kantornya untuk menyetor dan mengambil uang, seorang editor harian Boston Post meminta pendapat dari sejumlah ahli keuangan dan mereka menyimpulkan bahwa, walaupun memang ada kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan ribuan dolar dari pertukaran kupon perangko, namun “gagasan hebat” Ponzi tidak mungkin sanggup melayani permintaan yang sedemikian besar dengan perdagangan sebesar jutaan dolar.

Tidak lama kemudian, para reporter yang skeptis meminta wawancara dengannya. Karena khawatir akan image-nya, Ponzi menyewa seorang public relation bernama William McMasters untuk menangani publisitasnya. Ini ternyata adalah langkah bumerang baginya. McMasters menghabiskan beberapa hari di kantor Ponzi, dan menemukan bahwa operasi ini adalah sebuah penipuan dan langsung menuju Kejaksaan. “Orang ini adalah seorang idiot finansial,” kata McMasters. “Dia bahkan tidak bisa berhitung…. Dia duduk dengan mengangkat kedua kakinya di meja dan menghisap cerutu lewat pipa emasnya sambil berguman tentang kupon perangko.”

Ponzi dipanggil untuk menghadap pengadilan di Boston. Para penggemar etnik Italianya bersorak mendukung saat Ponzi melewati jalan, namun para auditor dan polisi yang menggeledah kantornya tidak berhasil menemukan apapun, selain catatan nama-nama dan nomor telepon. Karyawannya, saat ditanya, mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya bos mereka mendapatkan profit usaha.

Sebulan kemudian, khawatir akan runtuhnya skema “gagasan hebat”nya, Ponzi membawa $2 juta uang tunai menuju Saratoga Springs. Dia berharap memiliki nasib yang baik di casino tersebut. Dia tidak berhasil, dia kehilangan semuanya.

Pada Agustus 1920, harian Boston Globe menulis sebuah ekspos terhadap skema Ponzi. Nyaris terjadi kerusuhan, ribuan investor yang ketakutan menyerbu kantor Ponzi dan meminta uang mereka kembali. Itu seperti rush terhadap sebuah bank. Pengadilan kemudian menjelaskan secara detail:

Pada tanggal 19 Juli, rekening Ponzi di Hanover Trust adalah $334.000. Pada tanggal 24 Juli adalah sebesar $871.000. Namun, minggu berikutnya terjadi penarikan: $572.000 pada 26 Juli, $228.000 pada 27 Juli, dan $905.000 pada 28 Juli, total melebihi $1.765.000. Walaupun demikian, rekeningnya masih menunjukkan surplus, karena Ponzi menyetor uang tambahan yang dia ambil dari bank lain. Skema ini akhirnya berakhir karena penarikan sebesar $331.000 pada tanggal 9 Agustus. Ponzi bangkrut.

Di puncak skemanya, Ponzi hanya memiliki kupon perangko senilai $30, dengan uang investor sebesar $10 juta dari sekitar 20.000 investor di Boston dan New York.

Dalam masa 10 bulan itu, Ponzi merasakan suka duka tertinggi dari kehidupannya. Kebanyakan investor yang percaya padanya kehilangan seluruh uang mereka. Ponzi akhirnya ditangkap agen Federal dan menjalani hukuman penjara selama empat tahun di penjara Massachusetts.

Setelah keluar dari penjara, Ponzi kembali mengasah bakatnya. Dia melakukan berbagai aksi penipuan di Florida. Akhirnya, dia dideportasi kembali ke Italia. Dalam wawancaranya yang terakhir bersama sebuah harian berita, Ponzi mengatakan bahwa dia tidak menyesal namun berharap dunia memaafkannya.

Yang kemudian terjadi lebih cocok dibilang “melupakannya.” Di awal 1930-an, pimpinan Italia Benito Mussolini secara ceroboh mengira pria bernama Ponzi ini adalah seorang genius perbankan. Ponzi diangkat sebagai pejabat tinggi di pemerintahan Italia. Tidak lama kemudian, para pengikutnya menemukan bahwa pimpinan mereka bahkan tidak bisa berhitung. Ponzi mengetahui bahwa dia segera akan diekspos, dia segera mengepak beberapa tas berisi uang tunai dan berlayar menuju Amerika Selatan.

Namun, ternyata Ponzi melakukan hal yang sama di sana. Ketika Ponzi meninggal di Brazil beberapa tahun setelah itu di salah satu rumah sakit, dia sedang dalam pengawasan polisi.


Mengenali Skema Ponzi

Skema Ponzi terjadi ketika kita melihat dua kegiatan tersebut:

1. Perancang program menggunakan uang dari investor sendiri untuk membayar bunga “investasi” mereka, sambil menyakinkan mereka untuk tetap mempertahankan dana investasi mereka.

2. Perancang program mencari investor baru dan menggunakan uang mereka untuk membayar kepada investor lama.

Semakin besar bunga yang dijanjikan, semakin besar kebutuhan perancang program untuk menemukan partisipan baru. Semakin cepat masa jatuh tempo yang dijanjikan, semakin cepat perancang program harus menemukan investor baru.

Skema permainan Ponzi tidak mungkin bertahan terlalu lama karena keterbatasan jumlah partisipan di wilayah geografis manapun. Skema ini dapat berumur lebih panjang jika perancang program sanggup membangun sumber pendapatan baru di wilayah lain setelah partisipan di suatu wilayah sudah mencapai tingkat maksimal.

Namun, pada akhirnya, pada suatu ketika semua skema Ponzi pasti akan runtuh. Pertanyaannya hanya satu: Kapan?
Ilustrasi mengenai Skema Ponzi


Contoh Skema Ponzi
Sebuah perusahaan, sebut saja PT. Siluman Jaya Persada, menawarkan peluang “bisnis” seperti ini: Anda disuruh membayar Rp75.000 untuk bergabung dengan mereka. Rp25.000 adalah joining fee, sisa Rp50.000 dibayar kepada lima orang yang merupakan upline Anda, dan masing-masing upline mendapatkan Rp10.000. Setelah membayar uang itu, Anda berhak menjadi anggota perusahaan mereka dan mulai mencari partisipan baru. Para partisipan baru juga akan menyetor Rp75.000 dan Anda sebagai perekrut, upline dari mereka, akan mendapatkan Rp10.000.

Setiap orang boleh merekrut maksimal 5 orang dalam satu level. Karena total ada 5 upline yang akan mendapatkan bayaran, berarti total pembayaran adalah sebesar 5 level. Total pembayaran yang bisa Anda terima secara matematis adalah sebagai berikut:

Level 1 : 5 partisipan : bonus Rp 50.000,-
Level 2 : 25 partisipan : bonus Rp 250.000,-
Level 3 : 125 partisipan : bonus Rp 1.250.000,-
Level 4 : 625 partisipan : bonus Rp 6.250.000,-
Level 5 : 3125 partisipan : bonus Rp 31.250.000,-

Total bonus komulatif matematis adalah:
Rp 39.050.000,-

Ini tampaknya sebuah bisnis yang “masuk akal” dan yang pasti, sangat bonafit, bagi kebanyakan orang. Bayangkan saja, dengan modal Rp75.000, seseorang bisa mendapatkan manfaat maksimal sebesar 39 juta, artinya lebih dari 52.000%. Bisnis atau tabungan deposito jangka pendek mana yang bisa menandingi angka ini?

Terkenal dengan sistem piramida atau sistem mendasar dari maaf para perusahaan yang menganut sistem Multi Level Marketing bahasa bekennya MLM. Pada mayoritas permainan piramida, biaya untuk bergabung biasanya masih terjangkau kebanyakan orang. Para partisipan sejak awal memang sudah menyadari bahwa mereka sedang melakukan usaha piramida. Mereka tidak takut rugi, karena bagi mereka kegiatan itu hanyalah sebuah taruhan judi biasa, kalaupun rugi, kerugiannya masih bisa diterima dan tidak memberatkan.

Semua permainan piramida pada akhirnya akan berkembang seperti skema Ponzi untuk bisa bertahan lebih lama. Mereka harus mengeks-pansikan wilayah “bisnis” mereka ke wilayah geografis lain untuk melanjutkan sumber dana untuk membayar para partisipan sebelumnya.

Karena keterbatasan jumlah populasi dan reputasi piramida yang buruk, permainan atau “bisnis” piramida biasanya tidak bisa berkembang terlalu besar dan berjalan dalam waktu yang lama. Biasanya dalam beberapa bulan, masa ekspansi mereka sudah akan berakhir. Para partisipan yang bergabung belakangan akan kehilangan uang mereka. Jumlah mereka adalah mayoritas, cukup sering adalah lebih dari 90% karena sistem bagi hasil piramida memang mengharuskan demikian.


Penulis melihat biasanya para "korban" yang tertipu oleh sistem ini adalah orang-orang yang menginginkan hasil besar dengan usaha sedikit atau nyaris tanpa resiko. Sekali lagi penulis sebutkan hal tersebut mustahil didalam bisnis, jadi bijaklah dalam mengelola keuangan anda dan jangan mudah sembarangan tertarik dengan Investasi yang menjanjikan keuntungan menggiurkan.

27 Mar 2015

Monkey Business (Bisnis Monyet)

Dewasa ini semakin banyak saja trend yang semakin beragam dan salah satunya dengan iming-iming investasi. Bicara akan hal tersebut penulis jadi teringat dengan kisah tentang Monkey Business atau Bisnis Monyet yang pernah penulis baca dan ketahui. Berikut kisahnya tentang Bisnis Monyet tersebut.

Alkisah ada sebuah desa terpencil yang lokasinya berada dipinggiran sebuah hutan belantara, karena desa tersebut dekat dengan hutan ada banyak sekali monyet yang berada disekitar desa. Saking banyaknya bahkan warga desa sudah terbiasa dengan keberadaan monyet-monyet tersebut disekitar mereka.

Pada suatu hari datanglah seorang Kaya dan asistennya ke desa tersebut, dan orang kaya tersebut berkata kepada penduduk desa bahwa ia tertarik akan monyet-monyet yang berada disekitar desa tersebut. Bahkan karena rasa tertariknya itu orang kaya tersebut berkata kepada para penduduk desa ia bersedia membeli persatu ekor monyet tersebut dengan harga 100ribu.

Pada awalnya penduduk desa menganggap hal tersebut konyol dan hanya candaan sang orang kaya pendatang tersebut. Namun ada beberapa warga desa yang mencoba menangkap monyet-monyet disekitar desa dan menjualnya kepada sang orang kaya, dan benar saja persatu ekor monyet yang diserahkan dibayar dengan harga 100ribu.

Warga desa yang lainnya karena mendengar hal tersebut, akhirnya tertarik untuk menangkap dan menjual monyet kepada sang orang kaya. Sehingga terjadilah perburuan monyet secara besar-besaran. Dan setiap satu ekor monyet yang dijual kepada sang orang kaya selalu dibayar dengan harga 100ribu.

Lalu dikarenakan perburuan besar-besaran terhadap monyet, jumlah monyet menjadi semakin langka dan berkurang. Lalu sang orang kaya pun kembali mengumumkan, bahwa ia berani membayar sebesar 200ribu untuk satu ekor monyet yang dibawa oleh warga desa. Warga Desa menjadi semakin semangat untuk berburu monyet dan akhirnya meninggalkan pekerjaan pokok mereka , yang warga desa lakukan hanyalah berburu monyet-monyet disekitar hutan dengan tujuan agar bisa dijual kepada si orang kaya.

Akhirnya monyet dihutan pun semakin punah, dan kali ini sang orang kaya mengumumkan bahwa rekan bisnisnya sesama orang kaya ternyata juga tertarik kepada monyet-monyet desa tersebut dan bersedia membayar dengan harga 1juta perekor. Setelah mengumumkan hal tersebut si orang kaya pergi terlebih dahulu dengan alasan ia ingin mengajak atau menjemput rekannya yang berani membayar 1juta  perekor monyet untuk datang ke desa tersebut. Dan ditinggalkanlah sang asisten sendirian di desa tersebut untuk mengurus bisnis jual beli monyet dari warga desa.

Selepas kepergian sang orang kaya, warga pun bercerita kepada asisten orang kaya bahwa jumlah monyet sudah semakin sedikit sungguh sulit untuk menangkap monyet saat ini padahal harga yang ditawarkan oleh sang orang kaya cukup tinggi sekali. Akhirnya sang asisten berkata kepada para penduduk desa, ketahuilah Tuan atau Majikan saya selama ini menampung seluruh monyet yang ia beli dalam sebuah kandang yang cukup besar. Bagaimana jika saya menjual seluruh monyet dalam kandang majikan saya kepada kalian seharga 500ribu , kalian kan bisa jual kepada majikan saya seharga 1juta jadi kalian untung 500ribu tanpa perlu berburu monyet dihutan yang sudah langka lagi, dan nanti saya tinggal berkata kepada tuan majikan bahwa monyet-monyet yang selama ini dikumpulkannya itu kabur dikarenakan kandangnya rusak.

Mendengar hal menggiurkan tersebut para penduduk desa akhirnya menyetujui usul sang asisten orang kaya dan mereka pun membeli seluruh monyet-monyet yang telah dikumpulkan orang kaya tersebut dengan harga 500ribu perekornya, dengan harapan nantinya monyet-monyet itu bisa dijual lagi kepada sang orang kaya dengan harga 1juta seperti yang dijanjikan. Setelah menjual seluruh monyet dalam kandang sang asisten orang kaya pun diam-diam pergi meninggalkan desa dengan membawa seluruh uang yang didapatkan.

Waktupun berlalu, dan akhirnya sang orang kaya dan asistennya tidak pernah terlihat lagi didesa tersebut. Akhirnya warga desa pun menyadari bahwa sesungguhnya mereka telah terkena tipuan dari kedua orang tersebut yang membuat seolah-olah monyet-monyet disekitar desa tersebut berharga tinggi dan mengambil keuntungan dari kepolosan dan ketamakan orang-orang desa.

Demikian para penulis itulah kisah tentang bisnis monyet, yang dewasa ini sering kita jumpai disekitar kita. Monyet sendiri dalam kehidupan sehari-hari kita bisa diganti dengan "pohon", "ikan", "batu", "properti" dan lain sebagainya. Mungkin bisa teringat dalam pikiran kita pada saat kejayaan Ikan Louhan, atau pada saat kejayaan pohon Antarium / gelombang cinta, itulah salah satu contoh bisnis monyet yang penulis ceritakan diatas. Jadi janganlah pernah tamak akan kekayaan dan mudah tergiur dengan iming-iming keuntungan besar dengan cara mudah, ketahuilah tidak ada didalam bisnis keuntungan besar dengan resiko kecil sebab ada hukum pasti dalam bisnis "high risk high return" dan "no pain no gain".

23 Mar 2015

Pentingnya sebuah fondasi atau dasar



Fondasi atau dasar adalah hal yang pertama kali dikerjakan dalam membangung sebuah bangunan, karena dengan menggunakan fondasi yang kokoh bangunan tersebut kelak juga akan kokoh. Dan jika ada upaya untuk peningkatan bangunan , jika fondasinya kuat bangunan bisa langsung ditingkatkan tanpa perlu membongkar ulang fondasinya.

Demikian juga tentang kehidupan, semua harus mempunyai fondasi atau dasar yang kokoh terlebih dahulu. Sebagai contoh penulis akan ceritakan pengalaman yang pernah penulis alami sendiri. Pada saat berusia masih anak-anak (bahkan sampai usia saat ini) penulis selalu tertarik akan Olahraga yang bernama Bola basket, dari bermain ataupun sekedar melihat/menonton pertandingannya (baik level pelajar, umum, amatir atau profesional).

Ketika mulai berlatih hal-hal yang pertama dipelajari dan dilatih adalah dasar-dasar cara teknik bermain dan juga peraturan, semua hal tersebut dilakukan berulang-ulang dalam waktu selama bertahun-tahun lama nya. Ketika dasarnya sudah kokoh barulah dikembangkan kearah visi bermain serta pola permainan. Pada saat berlatih nyaris seluruh menu latihan hanya dasar-dasar saja, dengan hanya sesekali melakukan simulasi.

Barulah ketika pertandingan baik itu persahabatan ataupun resmi pola permainan diterapkan, lho kok begitu? mungkin ada beberapa yang bertanya kenapa hal seperti itu dilakukan, bahkan pada masa itu pun penulis sempat bertanya. Ternyata jawabannya adalah ketika dasarnya sudah kokoh dan kuat , mau dirancang pola seperti apapun sudah mudah.

Demikian juga dengan bidang lain yang selama ini penulis geluti, Namanya bidang Informatika. Hal yang dilakukan pada saat awal menggeluti bidang ini adalah mengasah logika serta kemampuan berpikir untuk membuat suatu algoritma, baik itu dalam hal membuat suatu program, system, jaringan ataupun lainnya. Bukan menghafalkan bahasa-bahasa pemrograman ataupun script-script yang telah ada.

Langkah awal yang dilakukan dalam membangun sebuah system adalah membuat diagram alur/flowchat/topologi atau entah apa lagi namanya. Dilanjutkan membuat sebuah kerangka dasar, bahasa yang penulis sebutkan adalah pseudocode atau kode kerangka. Setelah sudah sesuai barulah diubah menjadi bahasa pemrograman ataupun script yang nantinya akan digunakan.

Memang dalam proses nyata langkah dalam membangun dasar bisa dilewati, karena dianggap buang waktu , tenaga dan materi. Namun ketika dalam proses berjalan terjadi sebuah perubahan, yang terjadi adalah rombak keseluruhan yang ternyata justru lebih memakan banyak waktu , tenaga serta materi.

Jadi penulis menyimpulkan (CMIIW, Correct Me If I Wrong) dasar atau fondasi adalah sesuatu yang penting dalam bidang apapun didalam kehidupan ini. Bagaimana menurut para pembaca ?