30 Nov 2015

Gagal Paham (bagian dua)

Dipagi hari ketika penulis bercermin maunya diri ini tampan, ternyata malah lebih mirip sama nampan. Taukah kalian bahwa ternyata nampan adalah singkatan dari eNAM delaPAN,  yang secara matematis dekat dengan enam sembilan angka yang konon katanya banyak disukai oleh khalayak ramai, benar ini sungguh karena banyak orang yang tersenyum ketika mendengar angka enam sembilan. Atau bisa jadi juga nampan itu adalah diantara eNAM dan delaPAN alias angka tujuh, kan semua tau kalau angka tujuh artinya sudah lumayan dalam penilaian itu artinya sudah dapat nilai B minus lah itu.

Kita tinggalkan masalah cermin dan angka-angka diatas karena memang bukan otak-atik angka tujuan dari tulisan ini, kita lanjut lagi ke momen ketika akan sarapan. Ternyata memang benar bahwa ibu-ibu itu adalah makhluk paling kepo , semua urusan dari yang tidak penting saja dia mau tau.Tadi pagi setelah bercermin sampai bosan itu ya penulis pergi ke tukang nasi uduk untuk sarapan, dan ternyata si ibu tukang nasi uduk itu kepo abis.

Ditempat jualan nasi uduk saya pun pesan "Bu nasi uduk pakai telor dadar, perkedel sama bala-bala sambelnya 2sendok"
si ibu tukang nasi uduknya bukan menjawab malah nanya "Mau makan disini apa dirumah de ?"
Lha terserah dong penulis mau makan dimana, tuh ibu-ibu emang kepo banget ya masalah mau makan dimana aja dia harus tau.

Penulis itu juga punya hobi berjalan kaki dalam menjalankan aktifitas, bukan karena gak punya kendaraan tapi karena penulis ini orangnya sederhana dan tidak mau sombong aja, karena penulis orang sederhana yang tidak punya kendaraan. Banyak cerita dari para pejalan kaki katanya mereka ketika berjalan kaki di trotoar itu sering diklakson atau hampir diserempet sepeda motor itu sih biasa, kalau ditempat penulis pejalan kaki itu langsung diserempet soalnya gak ada trotoar ditepi jalan. Sekalipun ada , pasti ditutupin sama bangunan semi permanen yang memakai lahan trotoar. Ada juga trotoar yang diubah fungsinya menjadi semacam taman, yang biaya pembuatannya mahal indahnya cuma sebentar dan perawatannya gak ada.

Belakangan ini juga ada (maaf) orang kurang sehat mentalnya sebut saja orgil, yang sering muncul dekat tempat penulis beraktifitas. Tuh orgil itu hebat dia cinta kebersihan soalnya sering mencuci mobil-mobil angkutan umum atau truk yang kotor atau dia juga pernah tuh menyapu dan memungut sampah disekitar. Tapi itu semua gak gratis ternyata, pernah sekali tuh orgil menyapu dihalaman depan tempat usaha penulis terus dia minta upah, minta upahnya bukan uang atau makanan tapi rokok.

Memang kebetulan penulis ini punya kebiasaan buruk yaitu merokok, ketika selesai menyapu halaman orgil minta upah.
si orgil berkata "bos, merokok itu gak bagus buat kesehatan bos mending rokoknya buat saya aja"
Dan penulis kasih aja sisa rokok penulis yang sebungkus kurang sebatang kepada orgil, dan ternyata tuh orgil menyalakan rokok tersebut merokok terus bejalan menjauh.
Tentu saja hal tersebut membuat bingung dan sebal, sampai-sampai penulis ingin berkata "katanya merokok merokok gak bagus buat kesehatan tapi kenapa kamu merokok juga"
tapi akhirnya niat itu dibatalkan karena penulis sadar namanya juga orang yang kurang sehat mental masa ditanggapi. Bahkan penulis sampai berpikir ini yang gak sehat mentalnya sebenarnya siapa ya, apakah penulis? orgil tersebut? atau pembaca yang tulisan gak jelas ini dibuat aja masih serius membacanya.


note bawah :
penulis mau mengutip perkataan motipator (modal penitipan dan parkiran motor) yang katanya super "we must life with having fun seriously or seriously to become funny, but never try to seriously or try to funny" yang artinya : "kita harus hidup dengan menjadi senang untuk serius atau serius untuk menjadi lucu, tapi jangan pernah mencoba untuk serius atau lucu.

Merokok juga tidak baik untuk kesehatan dan bisa membunuhmu (jadi jangan ditiru). Karena penulis sendiri sedang dalam proses untuk berhenti melakukan hal tersebut, benar ini sungguh.

Mohon maaf jika ada penulisan atau kalimat yang menyinggung pihak-pihak tertentu, karena tujuan tulisan ini dibuat bukan untuk menyinggung.

23 Nov 2015

Gagal Paham

Tidak bisa dipungkiri sekarang ini adalah era kekinian, segala sesuatu selalu berubah sedemikian cepatnya mengikuti trend yang sedang berjalan. Banyak yang mengikuti era kekinian, dan tidak sedikit juga yang mencibir tentang kekinian. Seperti perdebatan seolah yang tidak ada awal mula ataupun selesainya jika melihat fenomena tersebut.

Pertama kita lihat dari sudut pandang yang mengikuti trend atau bahasa gaulnya itu kekinian. Mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, prilaku ataupun tindakan yang dilakukan selalu terbaru dan mengikuti trend yang sedang berlangsung. Ada beberapa yang memang mengerti secara harfiah maksud dan tujuan trend yang sedang berlangsung. Tidak sedikit juga yang terbawa arus demi mendapatkan predikat "up to date" atau gak mau dibilang kudet (kurang update).

Yang kedua sudut pandangan orang yang selalu mencibir mereka yang kekinian, entah kenapa setiap ada "peristiwa" dan ada trend yang sedang terjadi mereka selalu mencibir. Bahkan tidak sedikit yang berpedoman "anti mainstream" (mainstream adalah arus utama, atau secara harfiah bisa dibilang umum), perlu diketahui ketika anti mainstream itu juga sudah banyak jadinya itu mainstream juga lho (mulai berkerut keningnya kan ketika membaca sampai sini).

Kita ambil contoh kasus tentang boomingnya "stand up comedy" pada saat tulisan ini dibuat. Kita mundur sedikit ke beberapa tahun yang lalu, ketika lawakan-lawakan slapstick (lawakan yang mengkonyolkan diri seperti menjatuhkan diri, menaburi muka dengan tepung, mencela fisik, dan sejenisnya) sedang booming dan disiarkan hampir setiap hari di televisi sehingga membuat jemu dan bosan. Lalu muncullah era baru yang dengan menawarkan konsep yang berbeda dari masa itu yakni stand up comedy, yang mana komedi yang disajikan menggunakan  materi-materi yang dibawakan oleh para komika (pelaku stand up comedy). Yang mana materi itu berasal dari sudut pandang mereka pribadi terhadap hal-hal yang terjadi disekitar mereka jadi semua terasa beda dan original.

Seiring berjalannya waktu era lawakan slapstick pun mulai ditinggalkan (mungkin karena rasa jenuh) dan Stand Up Comedy pun mulai dilirik keberadaannya.  Sampai pada saat tulisan ini dibuat Stand Up Comedy mulai berjaya bahkan ada beberapa televisi nasional yang sebelumnya sama sekali tidak melirik stand up comedy mulai menayangkannya. Namun sayangnya lagi-lagi ada pihak yang kekinian dan mengikuti trend serta ada juga pihak yang mencibir.

Sejujurnya kalau dari sudut pandang penulis, kalau penulis suka akan sesuatu ya penulis nikmati dan jika penulis tidak suka ya sudah penulis tinggalkan. Tanpa komentar , kritik ataupun cibiran yang dikeluarkan. Namun yang ingin penulis tekankan, walau mengikuti era janganlah sampai kehilangan jati diri dan hanya ikut-ikutan tanpa tau apa arti trend yang sedang berjalan. Dan juga tidak perlu terjadi perdebatan antara pihak yang pro dan kontra, ingat bahwa damai itu indah.

9 Nov 2015

Sakit Gigi (bagian dua)

Selama sakit gigi, banyak hal yang menyebalkan selain susah makan dan susah tidur penulis sendiri susah dalam melakukan kegiatan yang biasa penulis lakukan yakni bersepeda ketempat beraktifitas. Bukannya kenapa soalnya penulis sebel aja sama tuh sepeda yang giginya bisa dioper-oper semaunya, sementara gigi penulis lagi sakit. Belum lagi karena SSB (sentuh sakit banget) pada bagian gigi, penulis jadi kesulitan untuk memakai helm sepeda yang penulis miliki, bukannya apa soalnya helmnya kecil dan tali helmnya ngepress di pipi sehingga menekan area yang sakit itu.

Akhirnya hari untuk perawatan gigi sesi kedua datang juga, dan penulis pun kembali menuju kursi penyiksaan itu (baca cerita bagian pertama kalau mau tau lebih jelasnya). Ternyata pada diperiksa ulang ada permasalahan yakni akar gigi yang bermasalah itu retak atau split (temennya kokakola), sehingga tidak mungkin dilakukan perawatan lanjutan dan dengan terpaksa harus dicabut giginya.


Ilustrasi di Tempat Kejadian Perkara


Dari pengalaman cabut gigi sebelumnya, pada saat proses pencabutan gigi itu horor. Mulut penulis harus dibuka selebar-lebarnya lalu gusi-gusi disuntik untuk pembiusan lokal. Gak cuma sampai disitu, setelah bius bekerja diambillah tang untuk mencabut giginya. Ukuran tang nya sih gak besar-besar amat , tapi pada saat proses pencabutannya itu bunyinya seperti suara derakan yang keras banget mirip kaya suara kayu yang patah. Dan proses pencabutannya pun gak sekaligus , bahkan sampai kepala penulis ditahan sama perawat (dan gak enaknya perawatnya itu cowok) sementara pelaku pencabutan gigi alias Dokter giginya berusaha untuk mencabut. Untungnya ada perawat, coba kalau Dokter giginya sendirian bisa kayak nyabut singkong dikebun kali ya, yang kakinya itu digunakan untuk menahan.

Setelah selesai giginya dicabut gak ada rasa sakit sama sekali, ya jelas karena udah dibius dulu sebelumnya. Coba kalau gak pakai bius, bisa-bisa ada manusia sebesar beruang yang ngamuk-ngamuk dalam ruangan praktek dokter gigi karena kesakitan. Tapi beberapa saat setelah efek dari biusnya hilang, rasa sakitnya itu luar biasa. Bahkan tingkat sakitnya itu melebihi rasa sakit sewaktu cinta ditolak sungguh itu penulis gak bohong. Soalnya penulis pernah ditolak cinta sekali (kalau orangnya sama tapi nolaknya berkali-kali, boleh dihitung sekali kan ya? soalnya cuma pengalaman menyatakaan cinta cuma sama dia aja) rasanya tuh kayak ada suatu bagian yang hilang. Sedangkan setelah dicabut gigi ini bukan cuma rasanya tapi memang beneran ada bagian yang hilang. Walau efeknya sama-sama susah tidur dan susah makan setelahnya, tetap aja lebih sakit dicabut gigi daripada ditolak cinta.

Dan sekarang pun penulis jadi sulit untuk tersenyum narsis kembali, karena salah satu elemen narsis dari penulis yaitu salah satu gigi depan sudah tidak ada. Meninggalkan luka yang membekas dalam dan perasaan yang membuat merasa gundah. Penulis pun berencana untuk memasang gigi tiruan (bukan palsu ya, tapi tiruan), soalnya gigi itu sama kayak cinta setelah tumbuh dan tercabut tak mungkin bisa tergantikan atau tumbuh lagi yang lain.




4 Nov 2015

Sakit Gigi

Mungkin diantara kalian pernah ada yang merasakan sakit gigi, rasanya sakit gigi itu gak enak ya. Hal ini membuat penulis teringat sebuah lagu dangdut yang berlirik "lebih baik sakit gigi daripada sakit hati", tapi untuk penulis itu berbeda ya karena menurut penulis lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Soalnya gini kalau sakit hati penulis masih bisa tidur walaupun susah, dan juga masih bisa makan biarpun terasa hambar. Kalau lagi sakit gigi udah tidur susah, pas makan gak bisa karena bawaanya itu SSB yang berarti Sentuh Sakit Banget tuh gigi sampai gak bisa mengunyah.

Ada beberapa saran agar bisa makan pada saat sakit gigi, yakni mengalihkan rasa sakit ke bagian tubuh yang lain (mungkin yang memberi saran mengetahui bagaimana efektifnya pengalihan isu bisa berhasil kepada khalayak umum). Pernah sekali waktu penulis makan dan tidak sengaja pada saat mengunyah, gigi yang sakit tersentuh dan itu rasanya sakit sampai berdenyut-denyut. Akhirnya penulis mencoba saran yang pernah penulis dengar , karena yang sakit gigi pada bagian kiri maka penulis pukul bagian pipi sebelah kanan dan hasilnya berhasil saya jadi berhenti makan pada saat itu. Karena sebelah kiri gigi sakit sedangkan yang disebelah kanan juga sakit karena sehabis dipukul.

Karena tidak bisa berlama-lama menanggung beban ini, biar kesannya didramatisir macam di televisi. Akhirnya penulis membuat janji untuk pergi ke dokter gigi yang biasa menangani penulis. Sebenarnya sih malas ke dokter gigi, soalnya pas diperiksa sama dokter gigi itu membuat seolah-olah penulis ini seorang yang sedang diinterogasi. Soalnya nih ya kalau kita jadi pasien dokter gigi, pertama kita tuh pasti disorot wajahnya pakai lampu yang terang banget sampai-sampai sulit untuk melihat. Lalu mulut kita tuh bakal dibuka lebar-lebar sambil ditanya-tanya sama si dokter gigi, yang mana gak mungkin kita bisa jawab dengan baik dan benar pada saat itu. Belum lagi setelah kita jawab, kita juga tetap "disiksa" gigi yang SSB itu dikorek-korek dan paling sadis lagi di bor, disentuh aja sakit apalagi di bor. Dan setelah keluar dari ruang tuh dokter gigi pasti kita tutup mulut rapat-rapat, penulis belum pernah liat pasien yang keluar dari ruang dokter gigi bisa cengengesan, sungguh betul itu.

Dan tahap yang paling horor itu setelah keluar dari ruang dokter gigi alias menuju ke kasir pembayaran dan penerimaan obat. Coba bayangkan kita mau bayar aja nih harus ngantri, gimana kalau kita mau minta duit. Gak cuma disitu aja setelah bayar juga masih disuruh harus menunggu obat, yang artinya lagi-lagi kita harus bisa bersabar. Itu tuh ibaratnya itu pukulan beruntun, pertama kita abis disiksa sama dokter gigi, lalu pas bayar disuruh antri, kemudian pas bayar biayanya gak sedikit, abis bayar diminta tunggu lagi untuk obatnya. Kalau kata komentator pertandingan tinju itu combo pukulan beruntun yang maut. Dahsyatnya lagi penulis disuruh balik lagi ketempat itu beberapa hari kedepan untuk perawatan ulang,  dan hebatnya penulis tuh mau aja untuk balik lagi. Apa mungkin nyanyian lagu dangdut "lebih baik sakit gigi daripada sakit hati" itu benar ya?


Note bawah : Buat dokter gigi penulis, peace dok ini kan lagi cuma belajar menulis aja.