11 Jul 2016

Libur Lebaran bukan Panjangan

Yang kamu lakukan terhadap aku itu jahat..... (ala Dian Sastro), mungkin kira-kira itulah yang akan diucapkan oleh kota-kota besar kepada kaum urban. Hal ini dikarenakan ketika saat hari libur panjang dan ketika para kaum urban punya uang kota-kota besar ditinggalkan, sementara ketika isi kantongnya sudah menipis para kaum urban kembali lagi ke kota-kota besar. Setelah berbondong-bondong ditinggalkan sehingga sunyi, sekarang malah kembali berduyun-duyun datang kembali ketika isi kantong sudah menipis.Sebenarnya melihat banyak kaum urban pulang kampung, penulis juga ingin rasanya ikut serta, tapi apa daya penulis itu bukan orang kampung sehingga tidak memiliki kampung, tetapi tak apalah yang penting tidak kampungan.

Ketika yang lain merayakan lebaran, penulis yang tidak mau mainstream merayakan panjangan, sebab konon katanya panjang itu sohibnya sih lebar. Pada saat libur lebaran ini juga penulis merasa lebaran dalam arti harfiah "menjadi lebih lebar". Yah dikarenakan pada masa liburan tidak ada kegiatan akhirannya cuma bisa tiduran, ingin rasanya bersantai sambil berjemur dan menikmati sinar matahari ditepi pantai, atau pergi mendaki gunung yang mana menikmati keindahan alam sambil sesekali merenung.

Pada saat musim liburan ini juga di media sosial penuh dengan tulisan @ (dibaca et) liburan, et pantai, et kumpul keluarga, et gunung, et mall dan sejenisnya. Namun mungkin beberapa saat setelah libur usai didalam benak mereka akan terbersit pemikiran et dah cicilan belum lunas, et dah hutang masih numpuk, et dah gajian lama amat yak, dan sejenisnya.

Ada juga yang meledek penulis bahwa katanya setelah liburan ini penulis menjadi buncit, tetapi itu tidak masalah karena sebelumnya ada yang bilang penulis itu mampang, bahkan mungkin di masa depan ada juga yang bilang penulis ragunan, agar lengkap seperti trayek bus dalam kota di Jakarta. Selain itu ada juga pertanyaan klasik yang anehnya selalu ditanyakan "kapan nikah?" , "calonnya mana?", untuk saat ini penulis punya "jurus" untuk menangkisnya jawaban penulis itu adalah "calonnya dah ada, namanya Luna lengkapnya Lu Nanya Melulu".

22 Jun 2016

Setahun Sekali

Belakangan ini sering terngiang-ngiang lagu anak-anak semasa tahun 90an kalau gak salah nama penyanyinya Dhea Ananda, judulnya penulis lupa karena udah lama (yah jadi ketahuan kan usia penulis kisaran berapa). Yang biasa dinyanyikan ketika menjelang hari raya atau menjelang lebaran, tapi kali ini liriknya mau diganti ah sedikit biar kekinian.

Beli Baju Baru alhamdulilah,
Tuk dipakai dihari raya.
Gak punya uang ya bisa minta
Duitnya malak THR dari pengusaha.

Handphone baru alhamdulilah,
Tuk dipakai dihari raya.
Gak punya handphone gak apa-apa
Masih bisa nyari di bus antar kota.

Kendaraan baru alhamdulilah
Tuk dipakai dihari raya.
Gak punya pun gak apa-apa
Bisa sewa yang penting gaya.

yah kira-kira jadi seperti itu ya penggalan liriknya. Mungkin dari pembaca yang lain masih bisa menambahkan sendiri ya. Semua ini nyata benar ini sungguh. Gak tahu kenapa ada doktrin yang melekat didalam pikiran khalayak ramai "setahun sekali", jadilah sebuah paradigma yang melantur seperti ini.

Curcol dikit, setiap menjelang hari raya pun tiba-tiba penulis jadi banyak punya pegawai imajiner. Mereka biasanya datang berombongan sambil berkata "bos, mohon partisipasinya untuk tunjangan hari raya. Setahun sekali bos". Padahal sumpah penulis juga gak kenal siapa mereka, mungkin mereka hanya datang juga setahun sekali untuk meminta "partisipasi" yang gak jelas untuk apa itu. Intensitas kedatangannya pun semakin mendekati hari raya, seperti suasana lalu lintas di jalur pantura semakin padat merayap alias semakin sering saja. Yah nama juga SETAHUN SEKALI ya......., mungkin penulis juga akan menulis tulisan yang sama ini setahun sekali.

17 Jun 2016

Edisi Ramadan

Abang Mpok aye ada pantun nih.

Beli perban di apotik punya bang ramdan
Titipan dari bang Mamat dan mpok Ati
Jalani Maraban ya Ramadan
Dengan saling hormat dan menghormati

Kali ini dibuka sama pantun dulu ya, biar ada yang bilang "cakep" kepada penulis. Sekarang ini sedang bulan ramadan atau bisa juga disebut bulan puasa. Ada banyak hal menarik selama bulan puasa nih, karena konon katanya bulan ini bulan yang penuh berkah.

Tidak tau kenapa setiap bulan puasa ini, harga-harga bahan kebutuhan pokok meningkat terutama harga-harga bahan pangan. Alasan klasik yang biasa diceritakan adalah, jumlah permintaan naik. Padahal jika ditelaah lebih lanjut, ketika bulan puasa frekuensi orang makan itu semakin berkurang karena puasa (hanya makan setelah buka dan sebelum imsak) tetapi kenapa jumlah permintaan meningkat (?)

Setiap bulan puasa ini juga jumlah pengemis dikota-kota besar bertambah jumlahnya. Mungkin hal ini disebabkan banyak yang tergiur dengan penghasilan menjadi pengemis, dengan modal sedikit (bahkan tanpa modal) bisa memperoleh hasil melimpah dan tidak membutuhkan banyak tenaga (hanya membuang jauh rasa gengsi dan malu).

Ada berbagai macam jenis pengemis ketika sedang "bekerja", diantaranya. Diantaranya sering berkat "pak/bu dari pagi belum makan", kalau dibulan puasa ya wajar dong sehabis imsak ya tidak boleh makan untuk yang menjalankan ibadah puasa. Atau juga ada yang berkata "sedekahnya pak/bu untuk kaum fakir", kalau ada yang seperti itu ketemu sama penulis jawabannya cuma "Saya juga seorang fakir, tapi tidak mengemis. Karena saya fakir asmara bukan pengemis cinta" (sambil nyetel lagu lawas om Joni Iskandar). Atau ada pun yang nyeleneh dengan berkata "pak/bu dah tiga kali puasa tiga kali lebaran gak pulang-pulang", kalau ketemu yang berkata seperti ini. Segera lapor ke pos polisi terdekat karena bisa saja di itu ternyata bang Toyib yang sudah melegenda didaerah pantura. Kasihan keluarganya udah mencari-cari , bahkan sampai dinyanyikan dari panggung ke panggung.

Selain pengemis yang bertambah populasinya, yang banyak menjamur juga itu penjual makanan untuk berbuka puasa yang bahasa kerennya disebut takjil. Biasanya berjualan ditempat-tempat keramaian dengan menggunakan meja sederhana, dan yang dijual pun jajanan yang menarik seperti teh manis, kolak, bubur sumsum, lontong, gorengan dan sejenisnya. Walaupun penulis gak menjalankan ibadah puasa karena, penulis ini minoritas dinegara ini tetapi senang saja kalau jajan takjil ini.

Sekian edisi ramadan kali ini.

30 Mei 2016

Pengalaman Waktu Berjalan Kaki

Selain bersepeda untuk berangkat ketempat beraktifitas, penulis terkadang berjalan kaki. Tujuannya tuh biar sehat aja, bergerak sambil kejemur matahari pagi. Namun ada beberapa hal yang membuat penulis segan berjalan kaki, selain trotoar yang mulai menghilang dan sekarang berganti dengan taman yang tidak seberapa pantas. Ada juga beberapa hal-hal lain yang cukup unik.

1.  Calo angkot yang rese
     Ketika sedang berjalan kaki dan tiba di perempatan yang banyak angkot berbagai jurusan mengetem, sering kali ketemu sama yang namanya calo rese. Para calo itu selalu berkata "mau kemana bang? ayo xxx bang" (xxx disini adalah nama daerah yang dilalui oleh trayek angkot itu) sambil narik-narik. Hal pertama yang membuat sebel adalah ditarik-tarik, emangnya penulis tambang acara tujuh belasan ditarik-tarik. Hal kedua dan yang paling membuat sebel, nama penulis itu bukan Bambang. Jadi jangan seenaknya mengganti nama orang ya, izin dulu sama yang memberi nama.

2.  Tukang ojek non online yang mangkal
     Diperempatan itu selain banyak angkot ada banyak juga tukang ojek yang mangkal. Tukang ojek ini tipikal orang yang membuat orang lain gede rasa, karena setiap orang dipanggilnya dengan sebutan bos, kalau sedang menawarkan jasanya mereka selalu berkata "ojek bos". Pernah sewaktu-waktu penulis iseng ketika berjalan ada tukang ojek yang menawari, ya penulis langsung naik aja. Setelah naik si tukang ojek bertanya "kemana ini kita bos?", ya penulis jawab aja "terserah, kan situ yang ngajak".

3. Orang-orang misterius
   Sering sekali ketika dijalan penulis juga bertemu dengan orang yang menyapa penulis. Masalahnya kebanyakan dari mereka itu sedang naik motor dan pakai helm fullface, dan juga kecepatannya tinggi. Karena penulis tidak sombong (selain rajin menabung juga), penulis sapa balik aja. Padahal sih gak mengenali siapa yang tadi memanggil atau menyapa

4. Pengendara Motor yang (maaf) tidak punya isi kepala
    Kita semua sudah tau, kalau dalam kepala manusia ada otak. Dan untuk melindungi kepala beserta isinya ketika berkendara sepeda atau sepeda motor diperlukan helm. Tujuannya sih jelas untuk melindungi kepala beserta isinya dari benturan jika (mudah-mudahan tidak sampai) terjatuh ketika berkendara. Yang sering penulis temui adalah pengendara kepalanya kayaknya gak berisi, karena gak dilindungi dan yang lebih sakti lagi "kaum" mereka itu doyan namanya "contra flow" (biar keliatan keren aja). Dan yang paling kampret tuh sering naik-naik ke trotoar, penulis pernah tuh lagi jalan di catwalk eh salah trotoar masih nyaris ditabrak sama "kaum" itu.

5. Jalanan yang Becek
    Sudah lumrah kalau sehabis hujan jalan menjadi basah , tapi yang gak lumrah kalau gak hujan itu jalanan tetap basah. Didekat tempat penulis ada tuh yang seperti itu , padahal malamnya tidak hujan pagi-paginya jalanan tetap saja becek mana gak ada ojek (soalnya mereka dongkol habis dikerjain). Ternyata hal itu dikarenakan malam sebelumnya dijalan itu dijadikan pasar sayur, ikan, daging, buah dan sejenisnya disana. Setelah pagi tersisa dah becek dan sampahnya yang memiliki aroma yang sangat khas, yakni aroma pasar yang menyengat.

Nah itulah beberapa pengalaman penulis ketika berjalan kaki.

17 Mei 2016

Orasi (ORa Ada iSI)

Penulis itu tidak terlalu suka dengan namanya pergi ke mall, dalam kurun waktu 1 edisi kalender saja bisa dihitung pakai jari tangan berapa kali penulis pergi ke mall. Mungkin ada yang beranggapan kalau penulis ini kurang gaul dan tidak kekinian jadi tidak suka pergi ke mall, atau mungkin ada juga yang beranggapan kalau penulis ini pas di mall itu sendirian dan sering iri melihat pengunjung mall lain yang (biasanya) sama pasangan. Kalau kalian berpikiran seperti itu buang jauh-jauh hal tersebut, karena seperti yang pernah penulis bilang "gw juga punya cinta tapi gak gw umbar".

Penulis tuh gak suka sama mall karena banyak penipuan disana, terutama pada bagian penjualan produk-produk pakaian. Disana sering diumumkan adanya "Big Sale" atau "Jumbo Sale" tetapi pas penulis datang dan lihat disana pakaian yang dijual ukurannya gak ada yang Big atau Jumbo. Pernah suatu ketika penulis protes ke pramuniaga produk fashion itu, dan jawaban dari pramuniaga seperti ini "Mas, disini itu hanya menjual pakaian ukuran manusia. Belum jual pakaian ukuran beruang/panda".  Pramuniaga itu gak tau kali ya, kalau lembaga penulis ini gak besar-besar amat kok orang lain aja yang lebih kecil (kalau yang punya kamus besar bahasa indonesia, tolong cari arti kata badan, lembaga, dewan, dan majelis biar gak salah).

Selain itu di mall sendiri adalah tempat yang ramai, yang tidak terlalu penulis sukai. Karena kalau ditempat ramai gitu penulis sering difitnah. Penulis lagi diam saja sering dibilang makan, makan tempat katanya. Padahal yang namanya makan itu kan memasukan sesuatu yang berbentuk padat kedalam mulut dan menelannya, kalau tempat gimana menelannya coba gak pada mikir apa. Padahal kan penulis tuh tidak gemuk cuma tulangnya saja yang besar, kulitnya lebih tebal, pipi lebih chubby dan yah sedikit lebih berbobot lah dibanding orang kebanyakan(ini tuh cuma dibuat lebih santun dan elok saja ya).

Salah satu yang membuat penulis juga gak suka sama mall adalah masalah parkir, yang ada cuma parkir mobil baik biasa atau vallet dan parkir motor baik biasa ataupun motor gede. Penulis kan sebagai salah satu pencinta moda transportasi bahan bakar gowes yakni sepeda, jadi bingung kalau ke mall parkir gimana. Kalau untuk pengguna sepeda lipat mungkin bisa lah dilipat sepedanya lalu dimasukkan tas dan dibawa kedalam mall. Lah untuk penulis sendiri yang sering disebut mirip beruang atau difitnah sering makan, gak mungkin mengendarai yang namanya sepeda lipat karena kasihan sepedanya.

Untuk yang belum tau, profesi penulis sendiri sama seperti Chris John. Kami sama-sama bergerak dibidang jual-beli, bedanya kalau penulis jual-beli barang dan jasa kalau Chris John itu jual beli pukulan. Nah beberapa suplier penulis itu bermarkas di sebuah mall yang cukup aneh. Namanya Mangga Dua Mall , bahasa gaulnya M2M biar kekinian aja disingkat. M2M sendiri adalah salah satu contoh mall yang aneh disana tidak ada bioskop, bahkan ketika hari minggu, hari besar atau tanggal merah lainnya disana itu sepi macam kuburan nyaris tidak ada toko yang buka. Sungguh kontras dengan mall-mall yang lain ya, dan itu salah satu mall yang cukup sering penulis kunjungi dibanding mall lainnya.

30 Apr 2016

Sedang Hobi Wuxia

Sudah lama gak menulis cerita (lebih tepatnya sih mengetik ya, soalnya gak ditulis), bukan dikarenakan (sok) sibuk ataupun kegiatan lainnya. Tapi lebih dikarenakan belakangan ini penulis sedang suka membaca novel wuxia (dunia persilatan tiongkok) ataupun menonton film seri yang diangkat dari kisah-kisah novel wuxia. Dari pengalaman itu penulis akhir mempunyai tambahan idola baru, yakni opa/engkong/eyang Louis Cha dikenal juga dengan nama Jin Yong atau Chin Yung.

Louis Cha adalah salah satu penulis wuxia senior, yang bahkan sudah menulis dari semenjak babe nya penulis masih remaja. Yakni era tahun 1950-1960an. Pada masa itu karyanya banyak diedarkan secara berseri melalui media cetak seperti cerita seri di koran ataupun dikumpulkan menjadi sebuah novel. Karya-karyanya terkenal dan beberapa diantaranya bahkan diangkat menjadi serial atau juga film.

 Beberapa karyanya adalah Trilogi Rajawali kisah mulai dari Guo Jing / Kwe Ceng dan Huang Rong / Oey Yong,  Yang Guo / Yo Ko dan Xiao Lung Ni / Siaw Lung Lie , Zhang Wuji / Thio Buki dan Zhao Min / Tio Beng yang sudah sering diangkat jadi serial dan disiarkan berbagai versinya di negara asal penulis. Selain itu juga ada Tian Long Buba atau juga dikenal dengan judul The Demi Gods and Semi Devils, yang cerita begitu kompleks dan memiliki benang merah dari ratusan jumlah tokoh yang diceritakan.

Tapi diantara semua karyanya ada satu yang cukup menarik yakni kisah Xiao Ao Jiang Hu / The Smiling Proud Wanderer atau  juga dikenal dengan judul SwordMan atau dalam saduran bahasa Indonesia dikenal dengan nama Pendekar Hina Kelana. Kalau diartikan secara harfiah judulnya kira-kira memiliki arti Mentertawakan Dunia Persilatan, cukup menarik karena dunia persilatan kok ditertawakan.

Secara ringkas kisahnya adalah mengisahkan beberapa (oknum) pendekar yang konon katanya berasal dari aliran lurus, namun ternyata aslinya sesat. Dan juga beberapa pendekar aliran sesat yang ternyata masih ada sisi baiknya juga. Tentu tidak ketinggalan kisah romansa tokoh utama pendekar dari aliran lurus Linghu Cong dengan putri dari Ketua aliran sesat Ren Yinying, yang menembus batas etika ataupun norma dalam dunia persilatan yang terjadi saat itu.

Satu hal lagi yang membuat saya salut kepada eyang Louis Cha, kisahnya ini tidak lekang dimakan waktu. Bahkan setelah melewati era milenium , masih layak untuk diikuti kisahnya. Bahkan sudah berkali-kali diangkat menjadi serial. Sebagai seorang (yang sedang belajar menjadi) penulis, penulis memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada eyang Louis Cha.

1 Apr 2016

(masih) Gagal paham

Ada beberapa hal yang masih sulit dimengerti dan membuat penulis sepenuhnya gagal paham. Salah satunya adalah ketika harga bahan bakar minyak (selanjutnya disingkat dengan bbm) naik, secara kompak , teratur dan rapi harga-harga yang lain pun menjadi ikut-ikutan. Penulis gak tau apakah yang lain itu memang harus naik, atau cuma ikut-ikutan trend biar dibilang kekinian aja. Atau sekedar gengsi karena dipanas-panasin sama teman atau tetangganya. Contohnya kayak si cabai yang mungkin biasa kita kenal dengan sebutan cabe (yang beneran ya bukan diulang ditambah imbuhan an), konon katanya harganya jadi ikutan naik karena dipanasi oleh tomat sobatnya yang dialognya kurang lebih seperti ini "gak asik u cab, yang lain aja harganya naik masa u enggak. kurang gaul u kalau gak naik harga". Dan akhirnya si cabe pun karena gengsi jadi ikut-ikutan naik, karena dia juga berobsesi ingin menjadi trending topic juga di medsos.

Penulis sendiri punya pengalaman melihat bagaimana kenaikan harga-harga imbas dari efek domino kenaikan harga bbm. Seperti yang kita ketahui bersama penulis itu suka jajan (tanpa tanda petik, dan dengan makna yang sesungguhnya bukan makna yang tersirat).  Pernah suatu waktu ketika harga bbm baru saja naik, penulis hendak jajan beli ketoprak. Dialognya kurang lebih seperti ini

P    = Penulis
PT  = Penjual keToprak (kalau PK takutnya artinya melenceng jauh)

p  :  bang toprak satu, cabenya tiga, gak usah pakai bawang putih, sama jangan pakai pare ya.
pt :  wah mas dagangan saya ketoprak, mana ada yang pakai pare.
p  : bener dong berarti pesanan saya
pt : iya sih
p  : oh iya gak usah pakai piring ya
pt : maksudnya gimana gak pakai piring mas?
p  : dibungkus , kalau bahasa kerennya pas direstoran sih tekawe..... (dibacanya take away ya) bang
pt : tapi pakai piring dulu ya, soalnya kalau gak gimana saya ngulek bumbu kacang tanahnya.
p  : ok

Singkat cerita ketoprakpun selesai dibuat, dan saya hendak membayar, namun kata si abang kurang karena harganya naik mengikuti trend yang sedang berjalan yakni yang terpusat pada kenaikan harga bbm. Padahal secara logika saja, apa korelasi dari kenaikan harga bbm dengan ketoprak. Apakah pada mengulek bumbu ketoprak itu menggunakan bbm agar bisa berjalan, sampai saat ini pun ini menjadi salah satu misteri yang belum terpecahkan.

Lalu suatu ketika harga bbm pun mengalami penurunan, mungkin karena setelah naik dan mencapai puncak akhirnya harus turun juga. Dan yang terjadi adalah harga ketoprak pun masih tetap sama saja tanpa mengalami perubahan mengikuti trend turunnya harga bbm, apa mungkin karena ketoprak sudah tidak asik dan tidak lagi kekinian. Yah setidaknya kalau harganya masih tetap belum turun , porsinya gitu ditambah contoh dulu pakai tahu goreng 2potong sekarang jadi 4potong. Setidaknya menjadi lebih adil gitu. Dan ternyata setelah disurvey lebih lanjut bukan cuma ketoprak aja yang mengalami labil seperti itu, tetapi banyak dari yang lain juga sama. Ternyata benar mereka memang kompak sama-sama ingin naik tapi ogah turun.

24 Mar 2016

(bukan) Gagal Paham

Pertama dijelaskan terlebih dahulu, judulnya seperti itu bukan karena tulisan gagal paham edisi-edisi sebelumnya dicekal oleh KPI (komisi penulis indonesia) ya. Tapi dikarenakan pada tulisan kali ini (mudah-mudahan) ada penjelasannya sehingga untuk para pembaca (mudah-mudahan) mengerti dengan jelas. Jadi tulisan kali ini mungkin bisa dibilang seperti penulis yaitu berbobot berat.

Beberapa hari yang lalu ada demonstrasi di ibu kota, mengenai penyedia jasa angkutan berbasis aplikasi online. Demonstran terdiri dari anggota paguyuban angkutan darat, yang beranggotakan supir taksi, angkot, dan sejenisnya, yang meminta diblokirnya aplikasi online para penyedia jasa angkutan. Yang disesalkan demo itu sendiri menjurus ke arah tindakan anarkis, yang mana mungkin saja telah digerakkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Hal ini sempat menjadi trending topic diberbagai sosial media dan juga media elektronik, sampai menimbulkan banyak sekali komentar-komentar para penghuni internet yang biar lebih kekinian biasa disebut netizen. Dari sekian banyak komentar yang masuk, ada beberapa yang cukup unik. Seperti contohnya kenapa penyedia jasa angkutan konvensional tidak ikutan membuat aplikasi online saja seperti yang lain. Komentar tersebut terdengar sederhana, masuk akal dan sepertinya membangun.

Namun perlu diketahui, sepengetahuan penulis selaku tukang jualan komputer profesional bersertifikat karena dilemari penulis ada ijazah bertuliskan nama penulis dikasih embel-embel S.Kom yang mungkin artinya Sales Komputer. Untuk membuat aplikasi itu tidak semudah membuat telor ceplok, yang (konon) cukup mudah dan berwaktu singkat yang tidak sampai sepuluh menit sudah bisa disajikan bersama kecap manis dan irisan cengek (cengek itu bahasa barat ya, lebih tepatnya bagian barat pulau jawa).

Tahap untuk membangun sebuah aplikasi sendiri setahu penulis diawali dengan USR yang merupakan kepanjangan dari User System Requirement, yang secara garis besar berarti kebutuhan apa saja sih yang butuhkan untuk sistem aplikasi yang akan dibangun nantinya. Sebagai contoh jika ingin membangun sebuah rumah kita membutuhkan setidaknya 1 petak lahan darat kosong, pondasi, tiang penyangga, atap, sekat antar ruangan dan sebagainya yang merupakan syarat minimun sebuah rumah.

Setelah USR terpenuhi masuklah kedalam tahapan FDS yang merupakan kepanjangan dari Functional Design Specification, yang secara garis besar berarti Rancangan Fungsi secara mendetail. Sebagai contoh kembali menggunakan analogi sebuah rumah, setelah kebutuhan awal terpenuhi kita perlu merancang atau merencanakan fungsi secara mendetail seperti perumpamaan berikut adanya sebuah pintu depan untuk masuk, setelah melewati pintu depan akan masuk kedalam ruang tamu, dari ruang tamu terhubung dengan ruang keluarga yang menjadi satu dengan ruang makan, ruang keluarga tersebut nantinya akan memiliki akses ke kamar mandi/toilet, ruang kamar tidur, dapur dan seterusnya.

Setelah FDS masuklah ketahap Developing , yang berarti pengerjaan pembangunan atau pembuatan. Sebagai contoh kembali menggunakan analogi sebuah rumah, setelah kebutuhan dasar sudah terpenuhi, rancangan sudah tersedia hal yang dilakukan adalah proses pengerjaan bangunan.

Selanjutnya adalah Tahap Testing, yang artinya pengujian. Biasanya ada banyak jenisnya dalam tahap ini ada yang menggunakan metode alpha testing beta testing. Ada pula yang menggunakan istilah FAT (Factory Acceptance Test), UAT (User Acceptance Test), dan sejenisnya yang mana pada intinya adalah pengetesan kelayakan dari sebuah sistem. Sebagai contoh kembali menggunakan analogi sebuah rumah, setelah rumah selesai dibangun tentunya harus diperiksa hasil pekerjaannya apakah sudah layak huni atau perlukah ada perbaikan lagi untuk menutupi kekurangan.

Tahap terakhir adalah tahap launching , running, kick off, atau apapun lah namanya itu. Yang berarti sebuah sistem sudah siap berjalan untuk dipergunakan oleh para penggunanya. Sebagai contoh kembali menggunakan analogi sebuah rumah, rumah yang telah selesai dibangun dan lulus tahap pemeriksaaan akan dilakukan proses serah terima kepada calon penghuni atau pemiliknya.

Nah dari ilustrasi diatas bisa diketahui kan membuat sebuah sistem itu gak semudah seperti membuat telor ceplok. Bahkan setelah sistem sudah berjalan masih ada banyak lagi proses yang perlu dikerjakan, dan itu akan dibahas lagi kapan-kapan kalau penulis sedang bisa menggunakan pola pikir, pengalaman sebagaimana seharusnya.

NB : Walaupun penulis sering menganalogikan pembangunan sistem itu seperti rumah, dalam membangun sebuah sistem tidak bisa menambahkan begitu saja jumlah pekerja. Karena kalau tidak salah ingat penulis pernah membaca semakin banyak kepala yang berpikir dalam membangun sebuah sistem belum tentu akan mempercepat proses pengerjaan, bahkan bisa saja memperlambat pekerjaannya.

Kalau ada kesalahan ada kekurangan ya mohon dimaklumi, karena penulis hanyalah tukang jualan komputer bersertifikat, bukan seorang profesional yang memiliki banyak gelar.

23 Feb 2016

Kompilasi Percakapan Unik dengan para Penjual Makanan (2)

Untuk yang belum mengetahui, penulis ini hobi sekali akan jajan itu karena penulis masih muda, belum menikah dan masih polos. Karena kalau sudah dewasa, konotasi kata "jajan" itu bisa saja berubah makna. Seperti pernah penulis dengar seorang istri menggugat cerai suaminya karena suaminya suka "jajan". Mungkin saja karena jajanan sang suami itu mengandung bahan-bahan berbahaya, contohnya seperti mengandung madu. Tidak tahu kenapa para istri itu tidak suka dengan yang namanya madu. Jadi pria dewasa yang sudah menikah, kalau ingin mengetes apakah madu asli atau tidak. Bawa saja kepada istri kalian, kalau istri marah dan minta cerai tidak dipungkiri itu adalah madu asli bukan palsu, tidak perlu dibakar dibekukan atau sejenisnya.

Wah jadi kepanjangan hanya untuk pembukaan saja, jadi kita langsung ke sub pembahasan kali ini. Yakni kumpulan percakapan unik penulis dengan para tukang jajanan atau penjual makanan yang pernah penulis alami.

5. Tukang Somay Yang optimis
Selain punya langganan tukang batagor & somay, penulis juga punya langganan penjual yang hanya menjual somay saja. Penjual somay ini terlihat sangat optimis terlihat dari percakapan berikut.
Keterangan
P = Penulis
TS = Tukang Somay

P   : Pak , dibungkus dong sepuluh ribu rupiah.
TS  : Pakai apa saja nih?
P : Campur saja, tidak usah pakai pare
TS : Kenapa kok gak pakai pare?
P : Pare itu pahit pak, walaupun rasanya tidak sepahit ditolak cinta
TS : Bisa aja nih, iya nih gak kenapa ya petani pare itu kasian lho. Mereka menanam pare berhektar-hektar semuanya hasilnya pahit , satu pun tidak ada yang manis.
P : iya atuh pak, kalau pare nya manis gak laku.
TS : sama juga seperti petani jeruk limau (sambil menunjukan jeruk limau) mereka menanam jeruk limau semua hasilnya asam, dan lagi gak gede-gede jeruknya segitu-gitu aja. Tapi tenang dengan usaha dan doa bisa saja suatu saat kelak pare dan jeruk limau hasil tanaman para petani akan menjadi manis. Karena semua akan indah pada waktunya (itupun kalau ada duitnya)

Mungkin itu tukang somay adalah fans garis keras dari motifator pak Mario Tegang, jadi perkatanya lemper sekali.


6. Tukang mie ayam bakso pujangga
Suatu ketika ketika sedang diperjalanan penulis merasa lapar karena memang sudah waktunya jam makan, melihat ke sekeliling ada gerobak penjual mie ayam bakso. Maka penulis pun memutuskan untuk singgah dan makan disana, namun apa daya ternyata tukang mie ayamnya adalah seorang pujangga.w
Keterangan
P    = Penulis
TMB = Tukang Mie ayam Bakso

P     : Bang mie ayam satu, makan disitu aja (sambil nunjuk meja) ya gak makan disini.
TMB : Wah mie ayamnya habis mas
P     : Kalau begitu bakso saja deh
TMB : Baksonya juga habis mas
P     : kalau gitu apa yang tersisa , saya lapar nih mau makan.
TMB : yang tersisa hanyalah penyesalan mas
P     : Oke kalau penyesalan bisa dimakan , saya pesan itu aja deh satu
TMB : bisa mas, namun penyesalan itu rasa tidak enak lho.
P     : (mulai bingung) gapapa bang yang penting bisa dimakan (sambil mencoba meladeni TMB yang pujangga sejati itu)
TMB : oke
Setelah menunggu lama ini pesanan penulis kok gak datang-datang, maka penulis pun bertanya kepada tukang mie ayam bakso tersebut.
P    : bang mana nih pesanan saya, kalau begini saya bisa terlambat nih.
TMB: Yah begitulah bung, yang namanya penyesalan pasti akan selalu terlambat.

Akhirnya dengan dongkol penulis pergi dari gerobak tersebut, dan melanjutkan perjalanan. Rasanya itu menyebalkan pas lagi lapar kok ketemu pujangga semacam itu. Gak jadi deh penulis makannya.


7. Tukang Karedok Curhat.
Dikarenakan penulis adalah seekor omnivora yang selain memakan daging, penulis juga memakan sayur-sayuran. Yang penulis suka diantaranya adalah salad ala sunda, yang terkenal dengan nama karedok. Yakni potongan sayur mentah diaduk dengan saus bumbu kacang ulek. Pernah suatu waktu ketika membeli karedok , sang penjual karedoknya curhat.
Keterangan
P   = Penulis
TK  = Tukang Karedok.

P    : karedoknya satu pak, pakai cabe nya 3aja. Yang aslinya cabe nya bukan cabe-cabean.
TK  : Siap, nah kayak gini nih jelas pesanannya. Tadi ada orang yang pesan karedok mintanya jangan pedas, tapi tetap ingin menggunakan cabe. Pas disuguhkan dia komplain katanya pedas, padahal sudah hanya menggunakan cabe 1buah saja cabe asli lagi. Tau gitu mending dia bilang aja gak usah pakai cabe.
P    : lah tumben ngomongny panjang lebar si bapak
Lalu sambil mengulek tukang karedok itu pun cerita
TK  : Iya nih saya lagi pusing, anak saya dah mau lulus SMP dan ingin melanjutkan ke STM. Sedangkan saya maunya dia masuk SMK aja.
P   : lah pak STM sama SMK kan sekarang sama aja pak.
TK  : beda mas, STM itu Sekolah Tukang Mie sedangkan SMK itu Sekolah Menjual Karedok. Alias dia melanjutkan bisnis keluarga.
P    : yah pak, sekarang itu sudah masuk masa wajib belajar 12tahun pak. Jadi lebih baik dari SMP anak bapak melanjutkan sekolah lagi.
TK   : Mang si mas nya lulusan mana?
P    : Saya dulu kuliah pak, sampai lulus jadi sarjana
TK   : ooo kuliah dimana mas?
P     : di UI pak
TK   : wih hebat mas bisa kuliah di universitas indonesia.
P     : gak pak dulu saya kuliah sambil bantu ibu saja jualan, Jadi nama kampusnya Usaha Ibu. Mirip-miriplah sama UI yang didepok.


ya untuk sementara cukup sampai disini dulu ya (padahal bahan atau materinya penulis mulai abis)

14 Feb 2016

Cinta (episode dua)

Berhubung konon hari ini tanggal 14 pebruari lagi hari palentine (susah ngomong hurup ep dan pee), banyak yang membicarakan masalah cinta. Biar kekinian penulis juga mau ikutan membahas tentang cinta, jadi materi tulisan kali ini agak berat dan berbobot namun tidak harus juga ditimbang dan dibandingkan sama bobot dari penulis ya. Cinta selalu menarik menyajikan hal untuk dikulik, karena cinta menjanjikan suka meski terkadang juga menggoreskan luka.

"Cinta datang tiba-tiba, cinta adalah anugrah Yang Kuasa" itu adalah petikan dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Marcel judulnya penulis lupa, kalau ditelaah itu ada benarnya karena kita sendiri tidak pernah akan bisa menduga kapan dan kepada siapa kita jatuh cinta. Namun tidak menutup kemungkinan cinta hadir karena terbiasa, namun kalau tidak hadir mungkin dia ada halangan ataupun urusan lain. Cinta itu juga ada berbagai macam seperti cinta kepada orang tua, cinta kepada keluarga, cinta pasangan kepada busangan (karena pasangan dan busangan adalah suami istri yang rukun dan saling mencintai).

Terkadang cinta itu sama seperti sampah, tidak boleh diletakkan sembarangan. Dan harus diletakan pada tempatnya yang sesuai. Ada sebuah kalimat bahwa jatuh cinta itu mudah, tinggal jatuh aja tidak perlu modal dan tidak perlu bangun lagi setelah jatuh. Ada yang bilang cinta tidak harus memiliki, itu hanya sebuah penghalusan dari kata-kata "berharap" atau bahasa penulis itu "ngarep". Ada juga suatu kalimat dari seorang tokoh fiksi yang berbunyi "sejak dahulu beginilah cinta, deritanya tiada berakhir". Tapi kalimat itu tidak sepenuhnya tepat, karena jika cinta ditambahkan imbukan "men" dan "di" tentunya akan berbahagia. Ataupun karena tulus mencinta dengan apa adanya, tidak perlu memperoleh balasan dicinta juga sudah membuat menjadi bahagia (ini masih penghalusan dari kata "berharap").

Ada juga yang berkata cinta itu ibarat menunggu angkutan umum dihalte, ketika ada angkutan yang berhenti belum tentu angkutan yang kita inginkan. Sekali ada angkutan yang kita inginkan , namun ternyata sudah penuh dan kita tidak bisa masuk kedalamnya. Jadi apakah sebenarnya itu cinta, cinta itu adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dimengerti. Kalau pembaca masih belum mengerti, ya mungkin saja itulah cinta.


NB : Penulis juga punya cinta, tapi gak diumbar

11 Feb 2016

Kompilasi Edisi Percakapan Unik bersama Penjual Makanan

Ternyata para pedang-pedagang makanan itu gak cuma bisa menjual barang dagangannya aja. Terkadang mereka pun bisa kita ajak mengobrol yang unik-unik. Bahkan ada beberapa obrolan penulis dan pada pedagang makanan yang cukup unik dan bisa penulis bagikan cerita seperti cerita-cerita berikut ini.


1. Tukang nasi uduk kepo
Disuatu pagi ada sebagai seorang manusia yang normal penulis tentunya perlu sarapan, dan pada pagi itu timbul keinginan untuk sarapan nasi uduk. Maka meluncurlah penulis ketempat tukang nasi uduk jualan.
keterangan P = penulis, TN = Tukang Nasi

P : Bu, nasi uduk 1porsi pakai telur dadar, perkedel sama bakwan.
TN : Ya, makan disini apa dirumah?
P : Lah terserah saya bu, ibu-ibu kepo aja deh nih.
TN : iya maksudnya kalau mau jangan makan disini.
P : Lah emang kenapa bu, saya gak boleh makan disini?
TN : Makannya disitu aja tuh ada kursi sama meja, kalau disini kamu menghalangi pembeli lain yang mau beli juga.
P : kalau gitu dibungkus aja deh bu, semur kentang ma tahunya ditaruh dipinggir aja.
TN : Kok dipinggir aja naruh nya, bikin repot aja
P : Kalau ditaruh ditengah ntar menghalangi yang lewat bu.

Akhirnya penulis pun bisa pulang membawa nasi uduk sebungkus.


2. Tukang bubur ayam koplak.
Ketika sore hari didepan tempat penulis mencari nafkah biasa melintas tukang bubur ayam, pada suatu sore penulis pun memesan bubur ayam kepada si penjual.
Keterangan P = Penulis, TB = Tukang Bubur

P : Bang bikinin bubur ayam semangkuk ya.
TB : Ok, tapi ayamnya pakai ayam mati mau gak?
P : Iya atuh bang, masa ayam yang masih hidup nanti saya gimana makannya. Bisa aja ini tukang bubur
TB : hehehe, ngomong-ngomong ini sepi amat ya. Kagak ada orang barang sepotong pun.
P : Makanya bang orang jangan galak-galak, orang lah mau dipotong jadi pada kagak mau lewat dan beli tuh jadinya. Ngomong-ngomong gak pergi naik haji bang, kayak di tipi-tipi itu lho.
TB : Eits jangan salah, saya udah naik haji. Tapi belum sampai ketujuan udah turun lagi. Saya takut sama ketinggian soalnya, kan kalau udah naik haji gak bisa turun lagi. Mungkin ini sepi karena seharian tadi turun hujan kali ya.
P : Ah pengaruh bang sepi sama turun hujan sih, kalau hujannya naik baru tuh bakalannya sepi.

Tanpa terasa bubur yang semangkuk sudah lenyap habis tertelan.


3. Tukang Batagor Somay Gaul.
Penulis punya langganan tukang batagor dan somay yang biasa mulai berjualan dengan cara mangkal dari sore sampai tengah malam, orangnya asik tapi kadang sering nyeleneh.
keterangan P = Penulis, TBS = Tukang Batagor Somay

TBS : Dah lama gak keliatan bro, kemana aja? nih saya ada menu baru nih.
P  : biasa kangbro saya lagi sok sibuk. Menu apaan?
TBS : Bakso
P : Lah semenjak kapan ente jualan bakso juga kangbro?
TBS : Dari dulu, ente aja yang gak tau bro.
P : Ya udah bakso satu porsi dah, makan disitu aja bukan disini (keingetan sama omongan tukang nasi uduk)
TBS : Lah kok gak makan disini?
P : Kalau makan disini ntar menghalangi orang lain yang mau beli, makanya makannya disitu aja.
TBS : Pembeli yang ini emang rada lain ya
Tidak lama kemudian pesanan saya pun diantarkan, dan yang diantarkan itu batagor bukan bakso.
P : Lah kang bro, tadi katanya menu barunya bakso. Lah ini sih batagor kayak biasanya gak ada bedanya.
TBS : Ini juga bakso bro, cuma dimasukin kedalam tahu terus digoreng. Jadi namanya BAkso TAhu GOReng, alias batagor.

Ternyata penulis tiba-tiba merasa bodoh saat itu juga. Dan dilanjutkan makan Bakso yang dimasukin kedalam tahu terus digoreng itu.


4. Tukang Nasi Goreng kekinian.
Untuk yang belum tahu, penulis ini orang yang doyan jajan jadi hampir semua tukang penjual jajanan akrab sama penulis karena sudah menjadi langganan. Suatu ketika penulis sedang makan nasi goreng ditempat seorang pedagang nasi goreng langganan terdapat sebuah percakapan yang isinya sebagai berikut.
keterangan P = Penulis,  TNG = Tukang Nasi Goreng.

TNG : Bro, kemaren pas saya browsing diinternet ternyata nasi goreng itu udah terkenal dan go internasional bro.
P : kemana aja bang, emang dari dulu itu mah.
TNG : Iya, mau tau gak kenapa Nasi goreng go internasional. Sementara tuh nasi uduk belum bisa.
P : Kenapa mang nya bang? (penulis mulai penasaran)
TNS : Soalnya nasi goreng itu warnanya eksotis bro, sementara nasi uduk tuh cuma putih kayak warna kulit orang pucat. Kan tau sendiri selera bule itu yang eksotis-eksotis bukan yang putih-putih. Belum lagi nasi uduk itu kurang gaul, temennya paling juga cuma bakwan sama sambal kacang jadi kurang ada terbuka bro.
P : bisa aja ini tukang nasi goreng, nasi goreng juga sombong kok bang. Cuma mau temenan sama acar, kerupuk atau emping doang. Dia gak mau gaul sama semur jengkol kayak si nasi uduk.
TNG : Hahaha, bisa aja ente bro


Sebenarnya masih ada banyak lagi, cuma penulis lupa apa aja. Jadi sementara ceritanya sampai disini dulu ya.

3 Feb 2016

Gagal Paham IX

Tanpa terasa saat ini sudah memasuki bulan pebruari, bulan yang tidak terlalu penulis sukai. Karena penulis susah melapalkan hurup "ep", dan juga dikarenakan bulan ini jumlah harinya sedikit. Untuk para pekerja mungkin menyenangkan karena jumlah hari kerja lebih sedikit namun bayaran yang diterima itu tetap. Sedangkan untuk orang seperti penulis yang menggantungkan hidupnya dibidang perdagangan itu agak kesulitan karena harus mengejar target yang sama dengan jumlah hari yang lebih sedikit.

Biasanya dibulan ini pebruari ini juga memasuki puncaknya musim hujan, yang mana hujan makin sering turun dan mudah-mudahan selamanya turun alias tidak pernah naik (aneh kalau hujan naik). Ada yang bilang dikarenakan dibulan pebruari ini ada perayaan Tahun baru imlek dan capgome. Yang biasanya dirayakan oleh para warga keturunan tionghoa, contohnya seperti penulis ini.

Tahun baru imlek sendiri adalah perayaan pergantian tahun kalender tiongkok, yang konon katanya berasal dari pergantian musim dingin kemusim semi pada daratan tiongkok pada zaman dahulu. Sedangkan capgome adalah perayaan tanggal 15 pertama pada kalender tiongkok yang merupakan berakhirnya perayaan tahun baru imlek.

Pada saat perayaan tahun baru imlek, itu seperti perayaan lebaran atau natal untuk orang-orang lain. Yang mana akan ada yang namanya kumpul seluruh keluarga atau bersilahturahmi mengunjungi keluarga satu persatu. Biasanya pihak yang lebih mudah mengunjungi pihak yang lebih tua, dan juga untuk yang sudah menikah memberikan angpao (alias amplop merah berisi uang, atau sejenis) kepada yang belum menikah.

Yang namanya acara kumpul keluarga itu pasti ada saja ucapan doa atau sejenisnya. Seperti contohnya setiap tahun pasti penulis dapat ucapan "semoga usahanya maju, enteng jodohnya, banyak rejeki nya" dan sejenisnya. Kalau kita telaah,kantor penulis (pokoknya maunya disebut kantor biar keren, kalau disebut toko terlalu mainstream) sudah pernah penulis dorong-dorong sampai detik ini gak mau maju satu milimeter pun dan lagi posisi kantor penulis berada ditepi jalan raya, kalau kalau posisinya maju berarti akan berada ditengah jalan itukan bahaya. Jadi mungkin ucapan doanya bisa diralat menjadi "semoga usahanya semakin berkembang , baik itu aset, jumlah transaksi atau keuntungannya".

Sedangkan untuk doa "semoga enteng jodoh",  penulis sendiri cukup sadar diri bahwa penulis itu berat. Jangan ditanya berapa berat badannya, karena hubungan penulis dengan alat timbang badan sedang kurang harmonis. Sudah lama kami tidak berkomunikasi satu sama lain, mungkin dikarenakan alat timbang badan itu terkadang terlalu jujur tanpa memahami perasaan orang yang menaikinya. Coba bayangkan kalau jodoh penulis itu enteng, kan kasian jadinya. Jadi mungkin ucapan doanya bisa diralat menjadi "semoga lekas dapat jodoh, yang sebagaimana mestinya dan seharusnya".

Sedangkan untuk ucapan doa "semoga banyak rejekinya" penulis tidak akan memberi masukan untuk merevisi ucapan itu, mungkin pembaca ada yang punya ide?


27 Jan 2016

Gagal Paham VIII

Kali ini judul diketik dengan angka romawi, hal ini biar gak kalah sama film yang belum lama tayang dengan sekuel ketujuh dan ditulis pakai angka romawi juga (maksudnya biar kekinian). Belum lama ini penulis memiliki nama panggilan "Pakar", bukan berarti seorang ahli tetapi kependekan dari Pak Karno. Tetapi memang lebih baik dipanggil pakar dibanding dipanggil pasuk, soalnya kalau dipanggil pasuk nanti kalau penulis punya pasangan/istri masa dia dipanggilnya busuk. Kesannya jadi kurang enak untuk diucapkan ataupun didengan.

Beberapa hari yang lalu, ada berita duka yang penulis terima bahwa kakak dari almarhumah ibu penulis meninggalkan dunia ini. Maka sebagai pihak keluarga penulis pun bergegas ke rumah duka, dan disana membantu-bantu semampunya. Salah satu hal yang penulis bantu adalah mengenai persiapan tenda , kursi dan meja untuk dipasang dihalaman rumah agar bisa menampung para tamu yang datang. Ada hal unik ketika hendak menyewa tenda, kisahnya seperti ini :

Penulis (p)            : Permisi pak saya hendak menyewa tenda, meja dan kursi.
Pemilik Tenda (t)    : Mau dipakai untuk apa, dan berapa lokal tendanya serta berapa jumlah meja dan kursi yang ingin disewa?
p : ada keluarga yang meninggal pak, jumlah tenda nya kurang 3lokal yang ukuran 4x4meter , jumlah meja 4 , kursi 150.
t  : ooo, mau dipasang kapan tendanya, dan berapa hari?
p : dipasang sore ini pak, dipasang sampai 2hari kedepan.
t  : waduh, kok MENDADAK banget sih.

Disana penulis kadang merasa tergelitik, karena kalau orang meninggal itu selalu mendadak dan belum pernah ada yang direncakan. Penulis ini hendak sewa tenda untuk acara kematian bukan hajatan, jelas mendadak karena memang tidak akan pernah kematian itu direncanakan terlebih dahulu.

Adapun ketika ada seseorang meninggal dunia, tempat peristirahatannya seperti peti mati , tempat pemakaman, atau tempat kremasi sering disebut tempat peristirahatan terakhir atau ada juga yang menyebutnya rumah baru. Bicara soal rumah , pasti jika kita mengambil rumah yang masih belum terbangun alias masih kaplingan tentu saja mendapatkan diskon. Jadi itu bisa jadi teknik marketing baru untuk bagian pemasaran pengurusan pemakaman, "Pesan hari ini maka anda akan mendapatkan diskon, DP dapat dicicil. Hari Senin Harga NAIK!!!  Tempat kremasi ini terletak didaerah strategis, yang tentu harganya akan naik terus menerus. Pemandangannya bagus, memiliki view kearah laut. Segera hubungi Kantor marketing kami sekarang juga, ingat HARI SENIN HARGA NAIK!!! ". Kira-kira seperti itulah kalau ada yang mengiklankan tempat kremasi, apakah ada dari pembaca yang berminat pesan dari sekarang?

5 Jan 2016

Catatan Awal Tahun 2016

Tidak terasa waktu berlalu bagaikan mimpi ketika tertidur, tahun 2015 telah terlewati dan tahun 2016 telah dimulai. Setiap pergantian tahun entah kenapa pasti ada saja yang namanya Kaleidoskop (review tahunan) dan juga Resolusi (Rencana Tahunan), entah sejak kapan hal itu menjadi suatu rutinitas dipergantian tahun. Oh iya mungkin sebagian dari pembaca belum mengenal penulis, ada suatu pribahasa "tak kenal maka tak apalah". Jadi artinya pembaca gak perlu mengenal penulis terlebih dahulu untuk membaca tulisan ini.

Pergantian tahun biasa dirayakan dengan banyaknya pertunjukan kembang api, yang mana banyak sekali dari kalian (karena penulis gak ikutan) yang menembakkan kembang api ke arah langit. Kalian mungkin tidak mengetahui kalau langit itu pendendam, dan sering labil. Jadi ketika banyak kembang api yang ditembakkan kearahnya dia akan mengingatnya, dan pada lain waktu ketika dia menjadi galau maka menangislah dia sehingga turunlah hujan.

Selain itu juga momen pergantian tahun biasa ditandai dengan banyaknya ramalan-ramalan dari para ahli yang konon katanya bisa meramalkan masa depan. Penulis juga jadi pengen ikutan meramal juga jadinya, penulis meramalkan bahwa tahun 2016 itu lebih banyak dari tahun 2015 baik secara jumlah tahun atau jumlah hari dan niscaya itu akan menjadi kenyataan. Dan juga penulis meramalkan bahwa pada tahun 2016 banyak dari manusia yang akan mengganti kalendernya, kalender 2015 dibuang dan kalender 2016 mulai dipajang.

Sedangkan untuk fenomena alam penulis ingin meramalkan bahwa pada tahun 2016 tetap akan terjadi dua musim , yakni musim hujan dan musim panas. Yang mana ketika musim hujan tetap ada daerah-daerah yang masih kebanjiran, dikarenakan buruknya drainase dan tata ruang. Sementara pada musim panas juga tetap ada daerah-daerah yang mengalami kesulitan air, dikarenakan tata kelola air yang masih kurang baik. Tapi itu masih bisa diperbaiki dengan kesadaran dalam diri masing-masing.

Sekian catatan awal tahun dari penulis , karena penulis ingin menceritakan tentang ramalan-ramalan lain yang mungkin saja bisa membuat pembaca tercengang. Padahal sebenarnya ide nya sudah habis juga, biar kelihatan keren ditutupnya seperti ini saja :D . Jika ada kesalahan dalam penulisan ataupun jika secara tidak sengaja ada beberapa pihak yang merasa tersinggung ada tulisan ini, penulis mohon maaf karena semua mungkin hanyalah kesengajaan semata. Tidak ada yang namanya kebetulan atau ketidak sengajaan dalam hidup ini. Sekian catatan awal tahun kali ini.